KEPULAUAN RIAU — USB memulai perjalanannya pada 1996 sebagai pengganti port serial dan paralel dengan kecepatan 12 Mbps. Dua dekade kemudian, USB4 v2 dan Thunderbolt 5 mendorong batas fisik kabel tembaga hingga 80 Gbps — lebih dari 6.000 kali lipat dari generasi pertama.
USB 3.0 pada 2008 membawa lompatan ke 5 Gbps, disusul USB 3.1 (10 Gbps) dan USB 3.2 (20 Gbps) yang justru membuat konsumen bingung dengan skema penamaan yang rumit. USB4 yang lahir pada 2019 mulai menyatukan arsitektur transportasi berkecepatan tinggi, namun implementasinya masih timpang antar perangkat.
USB4 Version 2.0 menggunakan modulasi PAM3 yang memungkinkan 40 Gbps per lane pada kabel yang sama — menggantikan NRZ yang hanya 20 Gbps. Hasilnya, bandwidth simetris mencapai 80 Gbps, sementara mode asimetris bisa menembus 120 Gbps untuk satu arah, ideal untuk beban kerja display berat seperti rendering 8K atau 12K.
Lapisan transportasi juga mendapat upgrade signifikan. PCIe tunneling kini mendukung PCIe Gen4, menggandakan throughput per lane untuk SSD eksternal dan eGPU. DisplayPort tunneling naik ke DisplayPort 2.1 dengan UHBR20, memungkinkan dual 8K atau single 12K dengan chroma penuh.
Kabel USB-C pasif bersertifikat sepanjang satu meter sudah mendukung 80 Gbps, namun kabel lebih panjang membutuhkan active retimer dengan pemrosesan sinyal tertanam. USB-IF memperkenalkan label baru: "USB 40 Gbps", "USB 80 Gbps", atau "240W Certified Cable" untuk menghilangkan ambiguitas nama versi.
Thunderbolt 5 hadir sebagai implementasi tertinggi dari USB4 v2. Spesifikasi Intel ini mewajibkan operasi 80 Gbps simetris, mode display 120 Gbps, PCIe Gen4 tunneling dengan throughput berkelanjutan minimal 32 Gbps, dan dukungan pengisian daya hingga 240W.
Razer Blade 16 (2026) yang baru dirilis sudah dibekali port Thunderbolt 5. Karena Thunderbolt 5 dibangun di atas lapisan fisik USB4 v2, kabel dan kontrolernya interoperabel dengan seluruh keluarga USB4, namun dengan sertifikasi yang lebih ketat.
Dengan kata lain, Thunderbolt 5 adalah jaminan bahwa perangkat mendukung semua fitur USB4 v2 secara penuh — mirip dengan peran Thunderbolt 4 di era USB4 v1.
Bagi pengguna laptop premium di Indonesia, kehadiran USB4 v2 dan Thunderbolt 5 berarti satu port USB-C bisa menangani semuanya: transfer data dari SSD NVMe eksternal dengan kecepatan mendekati internal, menyalakan monitor 8K, dan mengisi daya laptop gaming — semuanya lewat satu kabel.
Power Delivery 3.1 dengan Extended Power Range (EPR) 48V memungkinkan negosiasi daya hingga 240W. Artinya, satu kabel bisa menggantikan adaptor daya khusus untuk workstation kelas atas.
Namun, pengguna perlu jeli. Tidak semua perangkat dengan label USB4 v2 menawarkan fitur lengkap. Produsen bisa memilih konfigurasi parsial — misalnya tanpa PCIe tunneling — untuk menekan biaya. Sertifikasi Thunderbolt 5 menjadi penanda paling aman untuk mendapatkan performa penuh.
Kabel tembaga mulai mendekati batas fisiknya pada kecepatan 80-120 Gbps. Solusi berikutnya adalah kabel USB-C optik yang menyematkan transceiver serat di dalam konektor standar. Saat ini masih mahal, namun bisa membawa sinyal USB5 atau USB4 v3 masa depan hingga puluhan meter tanpa interferensi elektromagnetik.
Daya di atas 240W juga menjadi pertanyaan terbuka. Laptop workstation dan monitor portabel kelas berat mungkin mendorong kebutuhan tier daya yang lebih tinggi. Apakah USB-C akan tetap menjadi kendaraan untuk ekspansi ini atau digantikan konektor baru, tergantung pada batasan termal dan keandalan kabel pada tegangan tinggi.
Yang jelas, USB telah berevolusi dari sekadar port peripheral menjadi backplane multi-protokol berkecepatan tinggi. Satu konektor kini mampu menyuplai bandwidth PCIe setara workstation, video resolusi tinggi, dan pengisian daya berkelanjutan — semua dalam satu colokan USB-C.