BATAM — Angka tersebut dirilis Pemerintah Kota Batam bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam sebagai bukti meningkatnya kepercayaan investor terhadap iklim usaha di kota industri tersebut. Dari total investasi yang masuk, sebanyak 6.932 proyek sudah beroperasi, naik 52,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Jumlah proyek investasi secara keseluruhan tercatat sebanyak 15.826 proyek, tumbuh 32,82 persen dari 11.915 proyek pada Semester I 2025. Wali Kota Batam yang juga menjabat ex-officio Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyebut capaian ini bukan sekadar angka statistik.
“Alhamdulillah, realisasi investasi Batam pada Semester I 2026 mencapai Rp29,89 triliun atau tumbuh 62,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp18,37 triliun,” ujar Amsakar.
Kualitas investasi juga menunjukkan perbaikan. Nilai rata-rata investasi per proyek meningkat dari Rp1,54 miliar menjadi Rp1,89 miliar, atau naik 22,53 persen. Hal ini menandakan investor mulai menanamkan modal dalam skala lebih besar dengan orientasi jangka panjang.
Transformasi struktur investasi bergeser dari dominasi sektor jasa menuju industri manufaktur berteknologi tinggi. Sektor dengan realisasi terbesar adalah jasa lainnya sebesar Rp6,09 triliun, disusul industri mesin dan elektronika Rp6,07 triliun, serta industri kimia dan farmasi Rp3,97 triliun.
Dari sisi negara asal, Singapura masih mendominasi dengan nilai investasi Rp10,89 triliun. Posisi berikutnya ditempati Hong Kong sebesar Rp1,39 triliun, Korea Selatan Rp1,18 triliun, Republik Rakyat Tiongkok Rp1,11 triliun, dan Amerika Serikat sebesar Rp1,02 triliun.
Sepanjang Semester I 2026, investasi yang masuk berhasil menyerap 40.943 tenaga kerja, terdiri atas 40.423 tenaga kerja Indonesia dan 520 tenaga kerja asing. Angka ini meningkat 32,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pemerintah Kota Batam bersama BP Batam berkomitmen memperkuat sektor jasa agar mampu menopang pertumbuhan industri. Berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025, Batam memperoleh skor 4,04. Tantangan masih terdapat pada daya saing sektor jasa yang perlu ditingkatkan sejalan dengan dominasi sektor industri pengolahan yang menyumbang 57,01 persen terhadap PDRB.