TANJUNGPINANG — Pengrajin gonggong khas Kepri menemukan cara menarik untuk mengubah simbol kehidupan pesisir menjadi benda bernilai guna dan kaya cerita. Cangkang siput gonggong yang selama ini akrab sebagai bagian dari kuliner Kepulauan Riau kini dapat diolah menjadi bros, gantungan kunci, lampu dekorasi, aksesori, hingga benda cendera mata.
Proses kreatif ini menunjukkan bahwa identitas daerah dapat tumbuh dari material sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Bagi wisatawan yang mencari oleh-oleh berbeda, para pengrajin menawarkan pengalaman lebih personal karena produk tidak hanya mewakili bentuk gonggong, tetapi juga memperlihatkan kreativitas masyarakat kepulauan dalam mengolah kekayaan pesisir menjadi produk ekonomi kreatif.
Gonggong menempati posisi khusus dalam budaya kuliner dan identitas Kepulauan Riau. Siput laut ini dikenal sebagai hidangan khas daerah dan banyak ditemukan dalam bentuk olahan makanan maupun produk nonpangan.
Indonesia Travel mencatat bahwa di Tanjungpinang, gonggong tidak hanya diolah menjadi makanan seperti kerupuk dan sambal, tetapi juga dikembangkan menjadi patung, motif batik, dan berbagai produk kerajinan. Karakter cangkangnya yang berbentuk spiral dengan permukaan keras memberi perajin material dengan karakter visual yang mudah dikenali.
Dari sisi pemasaran, keunikan tersebut memberi keuntungan besar. Wisatawan tidak hanya membeli sebuah benda, tetapi membawa pulang simbol yang memiliki hubungan dengan tempat yang mereka kunjungi.
Produk berbahan gonggong memiliki ukuran dan fungsi beragam, tidak semuanya berbentuk suvenir kecil. Katalog resmi Dekranasda Kepri menunjukkan adanya bros gonggong dan gantungan kunci gonggong dari perajin di Tanjungpinang, sementara katalog produk Bintan juga menampilkan bros gonggong dan lampu berbahan gonggong.
Bros merupakan salah satu bentuk pengembangan gonggong yang menarik karena cangkang tidak harus mendominasi seluruh produk. Material tersebut dapat dipadukan dengan komponen dekoratif sehingga menghasilkan tampilan yang lebih modern.
Dekranasda Creative Space juga pernah menampilkan proses pembuatan gantungan kunci berbentuk gonggong sebagai contoh kreativitas perajin dalam mengangkat ikon daerah menjadi produk bernilai ekonomi.
Lampu gonggong tercatat dalam katalog kerajinan Bintan. Kehadirannya memperlihatkan bahwa material gonggong dapat dikembangkan dari suvenir kecil menjadi produk dekorasi dengan nilai visual lebih kuat.
Tanjungpinang menjadi salah satu titik penting untuk mencari kerajinan gonggong karena produk-produk tersebut hadir dalam ekosistem kerajinan daerah. Gedung Dekranasda Creative Space di kawasan Gurindam 12 menjadi salah satu ruang yang mempertemukan produk dari perajin lokal.
Pada Juli 2026, pengunjung dapat melihat berbagai kerajinan gonggong, kain tenun, batik, tanjak, serta produk kuliner khas Kepri di lokasi tersebut.
Gedung Dekranasda memang dirancang sebagai etalase produk unggulan dari kabupaten dan kota di Kepri sekaligus media pemasaran bagi produk kerajinan daerah.
Bintan tidak hanya dikenal melalui kawasan wisata Lagoi dan pantainya. Ekosistem kerajinannya juga menghasilkan produk berbasis material pesisir. Katalog Dekranasda Kepri mencatat sejumlah produk dari Kabupaten Bintan, termasuk bros gonggong, lampu full gonggong, miniatur bunga sisik ikan, kalung sisik ikan, serta produk rajut.
Jika perjalanan mencakup Bintan, pencarian kerajinan dapat dimasukkan ke agenda wisata tanpa harus menjadikannya satu-satunya tujuan.
Proses pembuatan dapat berbeda antara satu perajin dan perajin lain. Namun, secara umum, cangkang perlu dipilih dan dipersiapkan sebelum digunakan sebagai bagian dari produk.
Tidak semua perajin menerapkan urutan maupun teknik yang sama. Perbedaan teknik inilah yang membuat produk dari dua pengrajin dapat terlihat serupa tetapi memiliki karakter berbeda.
Dalam konteks ekonomi kreatif, keterampilan tersebut merupakan bagian penting dari nilai produk. Material mungkin berasal dari sumber yang sama, tetapi desain, ketelitian, dan cara mengolahnya membuat hasil akhir berbeda.
Kerajinan berbahan cangkang perlu diperiksa lebih teliti karena materialnya memiliki sifat keras tetapi tetap dapat retak apabila terkena benturan.
Untuk pembelian oleh-oleh dalam jumlah besar, sebaiknya meminta perajin menyiapkan kemasan individual. Cangkang yang saling berbenturan di dalam satu kotak berpotensi mengalami kerusakan.
Pertanyaan mengenai bahan baku perlu diperhatikan karena produk berbasis sumber daya laut tidak boleh dilepaskan dari persoalan keberlanjutan. Kerajinan yang memanfaatkan cangkang hasil samping konsumsi dapat menjadi bentuk pemanfaatan material yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah.
Namun, praktik yang bertanggung jawab tetap perlu memperhatikan asal bahan dan tidak mendorong pengambilan gonggong secara berlebihan dari alam. Karena itu, ketika membeli produk, informasi tentang sumber cangkang menjadi pertanyaan yang relevan. Produk kerajinan akan memiliki nilai lebih ketika kreativitas berjalan berdampingan dengan kepedulian terhadap lingkungan pesisir.
Menariknya, gonggong telah berkembang menjadi identitas visual yang lebih luas. Bentuknya masuk ke dalam desain batik, aksesori, kerajinan, dan berbagai produk kreatif. Batik Gong Gong, misalnya, mengadaptasi bentuk siput, ombak, dan unsur laut sebagai motif kain khas Kepulauan Riau.
Motif tersebut menunjukkan hubungan masyarakat dengan lingkungan laut sekaligus menjadikan kekayaan hayati sebagai bahasa visual. Perkembangan ini penting karena identitas daerah tidak selalu harus ditampilkan dalam bentuk yang sama. Satu ikon dapat diterjemahkan menjadi kain, aksesori, dekorasi, kemasan, bahkan desain produk modern.
Dekranasda Kepri juga mencatat produk gonggong dari Tanjungpinang dan Bintan dalam katalog kerajinannya. Hal tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa pencarian tidak perlu terbatas pada satu jenis produk atau satu wilayah saja.
Pada 2026, pemerintah daerah juga menampilkan kerajinan berbahan gonggong sebagai bagian dari produk unggulan yang dipamerkan kepada tamu dan pengunjung. Ini memperlihatkan bahwa gonggong semakin diposisikan sebagai bagian dari ekonomi kreatif Kepri, bukan semata-mata ikon kuliner.
Karakter material menentukan cara pengemasan. Produk kecil memang mudah dibawa, tetapi tetap membutuhkan perlindungan.
Kemasan bukan sekadar pelindung. Bagi UMKM, kemasan yang rapi juga meningkatkan kesan profesional dan memperbesar peluang produk diterima pasar yang lebih luas. Pemerintah Provinsi Kepri sendiri menyoroti kemasan dan penataan sebagai salah satu kekuatan produk UMKM binaan Dekranasda.
Gonggong merupakan siput laut yang dikenal sebagai salah satu makanan khas Kepulauan Riau. Selain dikonsumsi, gonggong juga menjadi inspirasi batik dan berbagai kerajinan lokal.
Produk yang tercatat antara lain bros, gantungan kunci, lampu dekoratif, dan berbagai aksesori.
Bisa, tetapi kapasitas produksi perlu dikonfirmasi langsung kepada perajin. Pemesanan dalam jumlah besar sebaiknya dilakukan jauh sebelum tanggal penggunaan.
Tidak. Produk seperti lampu dan dekorasi dapat digunakan sebagai elemen interior, sedangkan bros dan aksesori dapat dipakai sehari-hari.
Dari laut yang sama, lahir dua cerita: gonggong sebagai sajian dan gonggong sebagai karya. Ketika cangkang yang sederhana berubah menjadi bros, lampu, atau gantungan kunci, kreativitas masyarakat pesisir ikut menemukan bentuk barunya.
Di sanalah pengrajin gonggong khas Kepri menjaga agar sebuah ikon laut tetap hidup, bukan hanya di meja makan, tetapi juga di ruang-ruang kehidupan.