Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Selimuti Jakarta, Bandara Soekarno-Hatta Sempat Ditutup

Penulis: Irwansyah Hakim  •  Selasa, 08 September 2026 | 12:37:01 WIB
Warga membeli masker di sebuah apotek di Jakarta Selatan sebagai antisipasi dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menyelimuti wilayah ibu kota.

KEPULAUAN RIAU — Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat menutup operasionalnya pada Minggu (6/9/2026) pukul 01.30 hingga 05.30 WIB. Penutupan ini dipicu hasil paper test yang menunjukkan indikasi abu vulkanik di area bandara, sebagaimana tercantum dalam NOTAM A3341/26.

Sebanyak 33 penerbangan terdampak kebijakan ini. Rinciannya, 16 pembatalan, tujuh penundaan, dan lima penjadwalan ulang untuk rute internasional, serta empat pembatalan dan satu pengalihan untuk penerbangan domestik.

InJourney Airports telah mengaktifkan layanan penanganan penumpang, termasuk penyediaan makanan, transportasi hotel, dan area khusus di terminal.

Warga Jakarta Borong Masker, Kualitas Udara Memburuk

Dampak abu vulkanik juga terasa hingga ke Jakarta dan sekitarnya, termasuk Depok dan Bogor. Di kawasan Jalan Andara Raya, Jakarta Selatan, warga berdatangan ke apotek, supermarket, hingga lapak pedagang untuk membeli masker sebagai langkah antisipasi.

Kondisi udara di ibu kota memang terpantau memburuk. Pada pukul 07.00 hingga 08.00 WIB, indeks kualitas udara tercatat mencapai 109 AQI US. Sebagian warga yang beraktivitas di ruang terbuka mengeluhkan mata perih dan kelilipan.

Pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang dan membatasi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak. Masker disarankan tetap dipakai, terutama bagi mereka yang berolahraga di ruang terbuka seperti kawasan Car Free Day (CFD).

Penyemprotan Jalan dan Pemantauan Aktivitas Gunung

Untuk menekan debu yang beterbangan, petugas gabungan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat), BPBD, dan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta melakukan penyemprotan air di sejumlah ruas jalan utama. Armada pemadam kebakaran dikerahkan mulai dari kawasan Monumen Nasional (Monas), Tugu Tani, hingga Jalan Jenderal Sudirman.

Langkah ini dilakukan agar partikel abu yang menempel di permukaan jalan tidak kembali melayang akibat hembusan angin atau lalu lintas kendaraan.

Sementara itu, aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri masih menunjukkan episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam. PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM menetapkan status gunung pada Level III atau Siaga.

Petugas di Pos Pemantauan Gunung Api Anak Krakatau di Kabupaten Serang, Banten, terus merekam aktivitas kegempaan menggunakan seismograf. Data hasil pengamatan visual dan seismik itu menjadi dasar untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkanik dan potensi sebaran abu ke wilayah sekitarnya.

Reporter: Irwansyah Hakim
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top