KEPULAUAN RIAU — Dimas Anggara melangkah ke kursi sutradara lewat film horor Aplikasi Iblis yang dijadwalkan tayang 15 Oktober. Aktor yang mengaku penakut ini justru memilih genre horor karena menilai pasar Indonesia masih menggandrungi cerita seram. Skenarionya digarap Tissa TS dengan pendekatan kebiasaan digital Generasi Z.
Dimas Anggara menambah peran baru dalam kariernya: sutradara. Ia memimpin produksi film horor berjudul Aplikasi Iblis yang akan tayang di bioskop pada 15 Oktober. Keputusan ini diambil Dimas meski dirinya mengaku bukan penggemar berat film horor.
Pengakuan itu disampaikan Dimas dalam konferensi pers di CGV FX Sudirman, Rabu (16/9/2026). Menurutnya, genre horor masih punya tempat istimewa di hati penonton Indonesia.
"Karena mungkin di Indonesia kayaknya horor itu yang bisa dibilang yang masih digemari oleh banyak orang kan," ujar Dimas.
Bagi Dimas, tantangan terbesar bukan soal teknis penyutradaraan. Ia harus berhadapan dengan ketakutannya sendiri sepanjang proses produksi.
"Melawan rasa takut pasti. Melawan rasa takut saya sendiri," katanya.
Pilihan Dimas masuk ke genre horor terbilang masuk akal dari sisi industri. Film horor konsisten menjadi salah satu genre paling laris di pasar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, dengan modal produksi yang relatif terkendali.
Penulis skenario Tissa TS merancang Aplikasi Iblis dengan menengok pola hidup Generasi Z yang kian lekat dengan gawai. Pendekatan itu dipakai agar cerita terasa relevan dengan keseharian penonton muda.
"Apa sih kira-kira yang bisa relate dengan kehidupan kita semua sehingga kita akan merasa kayak aduh ini bisa gue banget nih gitu," ucap Tissa.
Dimas menambahkan, film ini juga ingin menyoroti betapa sulitnya manusia modern lepas dari perangkat digital.
"Sebenarnya kita pengen ngasih tahu juga selain kalau misalnya kayak di era sekarang itu udah era digital. Enggak mungkin kalau kita itu enggak bisa lepas dari gadget," tambahnya.
Aplikasi Iblis tidak hanya menyoroti relasi manusia dengan teknologi. Film ini juga mengangkat dinamika romansa yang akrab dengan kehidupan masa kini.
Kisahnya berpusat pada Arya, pria yang terobsesi pada pasangannya, Laras, bahkan setelah Laras meninggal. Karena rindu, Arya mencoba sebuah aplikasi yang disebut bisa menghubungkannya dengan Laras dari dimensi lain. Sejak itu, teror misterius mulai menghantui hidupnya.
Dari perjalanan Arya, film ini menyampaikan pesan tentang batas dalam mencintai agar tidak melampaui nalar.
"Karena di sini tuh ya sebenarnya itu tuh message-nya kayak seberapa besar sih kadar atau batasan kebucinan kita terhadap seseorang gitu," ucap Tissa.
Langkah Dimas beralih ke kursi sutradara menambah daftar aktor Indonesia yang melebarkan karier ke balik layar. Pasar film horor nasional sendiri masih menjadi salah satu segmen paling kompetitif, dengan rilisan baru hampir setiap bulan.
Bagi Dimas, keberanian menggarap genre yang ia takuti sendiri menjadi taruhan tersendiri. Publik akan menilai hasilnya saat Aplikasi Iblis tayang serentak di bioskop mulai 15 Oktober.