KEPULAUAN RIAU — Thailand, Malaysia, Myanmar, Singapura, dan Vietnam sudah mengumpulkan medali emas di Asian Games 2026, sementara Indonesia baru mengoleksi satu perak dan sembilan perunggu. Posisi tim Merah Putih di klasemen sementara masih tertahan di peringkat ke-23.
Kompetisi di Aichi-Nagoya memasuki fase krusial, dan peta kekuatan Asia Tenggara mulai terbaca jelas. Thailand memimpin perolehan medali di antara negara ASEAN dengan lima emas, tiga perak, dan dua perunggu. Malaysia menyusul dengan tiga emas dan lima perunggu, sedangkan Singapura, Myanmar, serta Vietnam masing-masing menyumbang satu emas.
Kelima negara tersebut meraih emas lewat nomor-nomor andalan yang selama ini menjadi kekuatan tradisional mereka. Dominasi ini membuat persaingan di papan atas Asia Tenggara semakin ketat, sementara Indonesia, Filipina, Kamboja, dan Brunei masih berjuang untuk membuka keran emas.
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyoroti wushu sebagai salah satu cabang yang belum memenuhi target. Nomor taolu changquan putra sebelumnya diproyeksikan menyumbang emas, tetapi hasil yang didapat baru sebatas perunggu.
"Untuk wushu targetnya memang emas. Hari ini yang kita dapat adalah perunggu. Kami apresiasi perjuangan atlet yang sudah berjuang memberikan medali untuk Indonesia," kata Erick dalam rilis resmi Kemenpora, Rabu (23/9).
"Tetapi kami juga harus terbuka bahwa hasil tersebut belum sesuai dengan target yang sudah kami sepakati sejak awal," ujarnya menambahkan.
Hingga Rabu (23/9) pukul 15.00 WIB, Indonesia baru mengumpulkan 10 medali dengan rincian satu perak dan sembilan perunggu. Jumlah itu menempatkan tim Merah Putih di peringkat ke-23 klasemen sementara, tertinggal jauh dari Thailand yang berada di posisi teratas ASEAN.
Erick meminta evaluasi menyeluruh dari setiap cabang olahraga yang masih berpeluang menambah medali. Menurutnya, perjuangan di Asian Games 2026 belum selesai dan masih ada nomor-nomor yang bisa dimaksimalkan untuk mengejar target emas.
Sejumlah cabang masih menyisakan nomor yang bisa menjadi peluang Indonesia untuk naik podium tertinggi. Perhatian tertuju pada atlet-atlet yang selama ini menjadi tulang punggung kontingen, termasuk di nomor perorangan dan beregu yang belum dipertandingkan.
Lagu Indonesia Raya memang belum berkumandang di Aichi-Nagoya. Namun dengan sisa pertandingan yang masih berjalan, peluang untuk memecah kebuntuan emas masih terbuka lebar.