Mabuk Perjalanan di Mobil Listrik: Keluhan Penumpang dan Penjelasan Ahli

Penulis: Faisal Hasbi  •  Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:36:31 WIB
Penumpang mobil listrik mengeluhkan rasa mual yang lebih parah dibandingkan kendaraan konvensional.

KEPULAUAN RIAU — Sejumlah penumpang mobil listrik mengeluhkan rasa mual yang lebih parah dibandingkan saat berada di kendaraan berbahan bakar konvensional. Keluhan ini muncul dari pengalaman pribadi, sementara penelitian ilmiah mengenai hubungan keduanya masih dinilai terbatas oleh para akademisi.

Lola Baird, warga London Utara, tidak pernah punya riwayat mabuk perjalanan. Situasi berubah ketika kekasihnya membeli mobil listrik dua tahun lalu. Setiap kali diajak perjalanan jauh dengan kendaraan tersebut, Lola selalu merasa sangat mual. Keluhannya cukup parah sampai ia meminta kekasihnya mengganti mobil.

Pengalaman Lola bukan kasus tunggal. Beberapa penumpang lain melaporkan hal serupa. Menariknya, keluhan ini tidak dialami pengemudi mobil listrik. Para pengemudi justru tidak merasakan mual yang sama.

Penjelasan Dokter Spesialis Saraf

Dr. Nicholas Hac, ahli saraf di Northwestern Medicine Chicago yang berspesialisasi dalam pusing dan vertigo, mengaku sering mendengar keluhan ini. Setidaknya dua pasien setiap bulan secara khusus menyebutkan bahwa mereka mual saat menjadi penumpang mobil listrik.

"Saya sudah mendengarnya berkali-kali," ujar Hac.

Dr. Irene Di Giulio, dosen senior bidang anatomi dan biomekanika di King's College London, menyatakan beberapa orang memang mengalami mabuk perjalanan lebih parah di kendaraan listrik dibandingkan kendaraan non-listrik. Menurutnya, mobil listrik bisa berakselerasi dan melambat jauh lebih cepat ketimbang mobil berbahan bakar konvensional. Pola akselerasi instan inilah yang memicu mabuk perjalanan.

Mengapa Tubuh Merasa Mual

Mabuk perjalanan terjadi karena ketidakcocokan sinyal sensorik yang diterima tubuh. Tubuh bergantung pada tiga sistem sensorik untuk mengetahui bahwa kita sedang bergerak: apa yang dilihat mata, apa yang dirasakan sistem keseimbangan telinga bagian dalam, dan apa yang dirasakan serabut saraf di tubuh.

Ketika salah satu sinyal bertentangan dengan yang lain, mabuk perjalanan bisa muncul. Contohnya saat menatap ponsel sehingga mata tidak melihat tanda-tanda pergerakan di luar jendela.

Hac menambahkan, beberapa orang memang lebih rentan mengalami mabuk perjalanan. Faktor genetik berperan besar. Perempuan dan anak-anak tercatat lebih rentan mengalaminya.

Produsen Mobil Listrik Angkat Bicara

Produsen kendaraan listrik Xpeng menanggapi keluhan ini secara terbuka. Menurut Xpeng, pertanyaan soal mual saat naik mobil listrik adalah hal wajar dan bukan sekadar perasaan penumpang.

"Hal itu dipicu efek samping dari cara mobil listrik didesain," jelas Xpeng.

Meski begitu, tidak semua penumpang merasakan mabuk perjalanan di mobil listrik. Sebagian orang tidak mengalami masalah apa pun saat berada di kendaraan listrik.

Penelitian Masih Tahap Awal

Hubungan antara mobil listrik dan mabuk perjalanan belum bisa disimpulkan secara pasti. Dr. Bill Yates, peneliti mabuk perjalanan di Universitas Pittsburgh, menilai temuan penelitian yang ada masih sangat terbatas.

"Ada beberapa informasi anekdot, tetapi belum banyak penelitian yang benar-benar serius dan komprehensif yang dilakukan," kata Yates.

Beberapa akademisi lain juga menyatakan belum ada bukti cukup untuk menarik kesimpulan yang pasti. Keluhan penumpang mobil listrik soal mual tercatat konsisten muncul, tetapi penjelasan ilmiahnya masih menunggu penelitian lebih lanjut.

Reporter: Faisal Hasbi
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top