BATAM — Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau Hasan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Ardiwinata, dan Ketua DPD ASITA Kepri Eva Betty bersama-sama memukul kompang sebagai tanda pembukaan pameran. Acara yang digelar di Atrium Mega Mall Batam Centre itu menjadi bagian dari rangkaian ASITA Kepri Travel Mart 2026.
Sejak hari pertama, stan-stan peserta diserbu warga yang mencari paket perjalanan dan promo wisata. Berbagai sektor terlibat, mulai dari perhotelan, biro perjalanan, pengelola destinasi, hingga komunitas golf.
Penyelenggaraan tahun ini mengusung konsep linkage tourism, yakni mendorong keterhubungan antardestinasi unggulan di Kepri. Batam diharapkan tidak berhenti sebagai tujuan wisata, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi wisatawan yang melanjutkan perjalanan ke Bintan, Tanjungpinang, Karimun, dan daerah lain.
"Batam harus menjadi hub-nya wisatawan. Artinya, Batam menjadi pintu gerbang utama yang nantinya bisa menyebar ke destinasi-destinasi lain di Kepulauan Riau," ujar Hasan.
Hasan menegaskan pengembangan pariwisata butuh sinergi pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha. Kolaborasi itu diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memastikan wisatawan memperoleh informasi yang baik mengenai destinasi yang akan dikunjungi.
Data yang dipaparkan Hasan menunjukkan kunjungan wisatawan ke Kepri hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 1,4 juta. Hampir 85 persen di antaranya tercatat di Batam, sedangkan sisanya tersebar di sejumlah kabupaten dan kota lainnya.
Melalui berbagai kegiatan promosi, termasuk Batam Travel Mart 2026, ia berharap target kunjungan wisatawan Kepri sebanyak 2,7 juta orang dapat tercapai.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Ardiwinata mengajak seluruh pelaku industri pariwisata memperkuat kolaborasi dan membangun narasi positif. Menurutnya, komunikasi publik berperan penting dalam membentuk citra destinasi.
Informasi mengenai berbagai persoalan yang terjadi di daerah, kata dia, perlu disampaikan secara proporsional, akurat, dan disertai penjelasan mengenai langkah penanganannya. Ia mencontohkan isu kabut asap dan gangguan listrik yang sempat menjadi perhatian masyarakat.
"Sebagai pelaku pariwisata Kepri, mari kita bangun narasi-narasi yang membuat wisatawan domestik dan mancanegara sangat ingin berkunjung ke provinsi dan pulau-pulau di Kepulauan Riau," ujarnya.
Ardiwinata menambahkan, penyelenggaraan Batam Travel Mart sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Batam memperkuat sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE). Sektor itu dinilai memiliki peluang mendorong pertumbuhan pariwisata sekaligus aktivitas ekonomi daerah melalui pertemuan bisnis, seminar, simposium, pameran, serta kegiatan business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C).
Ketua DPD ASITA Kepri Eva Betty menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pariwisata Kepri dan Disbudpar Batam atas dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia juga berterima kasih kepada para peserta dan panitia yang telah berkontribusi dalam persiapan Batam Travel Mart 2026.
ASITA Kepri Travel Mart 2026 menghadirkan dua agenda utama, yakni B2C dan B2B. Agenda B2C berlangsung melalui pameran pariwisata di Atrium Mega Mall Batam Centre pada 15–18 Oktober 2026, tempat masyarakat dapat mencari informasi perjalanan, membandingkan penawaran, serta memanfaatkan beragam paket dan promo wisata.
Agenda B2B dirancang mempertemukan buyer dan seller dari industri pariwisata dengan target sekitar 100 peserta dari dalam dan luar negeri. Pertemuan bisnis ini diharapkan membuka peluang kemitraan baru, memperluas pasar, dan memperkuat promosi destinasi Kepri.