KEPULAUAN RIAU — Muhammad Qodari menjelaskan, setiap pertemuan Presiden Prabowo dengan pemimpin negara lain maupun forum internasional selalu dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk memperkuat kepentingan ekonomi nasional. Hal ini disampaikannya melalui keterangan resmi Bakom RI, Selasa (8/9/2026), merespons agenda Presiden di Vladivostok, Rusia.
Dalam kunjungan tersebut, Presiden Prabowo hadir sebagai tamu kehormatan dan menyampaikan pidato pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11. Forum itu juga dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin.
Pintu Masuk Investasi dan Perluasan Pasar
Qodari mengatakan, Rusia saat ini menjadi negara yang sangat strategis secara geopolitik dan memiliki sumber daya alam melimpah. Karena itu, forum internasional seperti EEF dipakai pemerintah untuk memperkenalkan potensi ekonomi Indonesia sekaligus menarik minat investor global.
"Bagi Presiden Prabowo, setiap agenda kunjungan luar negeri selalu diarahkan sebagai bagian dari upaya mencari solusi, membuka peluang ekonomi, dan membawa manfaat nyata kembali ke Indonesia," tuturnya.
Presiden Prabowo secara khusus mengajak pelaku usaha global menanamkan modal dan menciptakan nilai tambah di Indonesia. Pemerintah juga mendorong Rusia meningkatkan nilai perdagangan bilateral apabila perjanjian dagang bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia resmi berlaku.
Prinsip Bebas Aktif dan Kepentingan Nasional
Langkah diplomasi ini merujuk pada Pasal 3 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Politik luar negeri Indonesia menganut prinsip bebas aktif yang diabdikan untuk kepentingan nasional.
"Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Indonesia harus hadir, berbicara, dan memperjuangkan kepentingan nasional secara aktif," ujar Qodari.
Menurutnya, prinsip tersebut membuat Indonesia tidak cukup sekadar mengikuti dinamika dunia. Negara harus mengambil peran ketika kepentingan nasional dipertaruhkan, termasuk melindungi kepentingan ekonomi dari ketidakpastian global.
Kerja Sama Pangan dan Energi Jadi Prioritas
Selain investasi dan perdagangan, Presiden Prabowo juga mengajak Rusia memperkuat kolaborasi di sektor pangan dan energi. Qodari menilai kedua sektor itu berkaitan langsung dengan kemampuan Indonesia menjaga kemandirian nasional.
Ketahanan pangan dan energi menjadi fondasi stabilitas ekonomi di tengah gejolak dunia. Pemerintah memandang kerja sama ini sebagai bagian dari upaya melindungi kepentingan masyarakat luas.
"Semakin besar peluang ekonomi yang dibuka melalui diplomasi, semakin besar pula potensi terciptanya investasi, lapangan kerja, penguatan industri nasional, serta ketahanan ekonomi Indonesia," katanya.
Diplomasi dan Agenda Dalam Negeri Berjalan Paralel
Qodari menegaskan, politik luar negeri dan penyelesaian persoalan di dalam negeri bukan dua agenda yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya saling memperkuat ketika kebijakan luar negeri menghasilkan manfaat konkret bagi rakyat.
"Oleh karena itu, bagi Indonesia, mengatasi tantangan di dalam negeri dan memperjuangkan kepentingan nasional melalui diplomasi bukanlah dua hal yang bertentangan," jelasnya.
"Keduanya merupakan tugas yang dijalankan secara bersamaan, saling melengkapi, dan bertujuan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia," tambahnya.