Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) resmi menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta di seluruh jenjang madrasah di daerah itu. Kebijakan ini menekankan pola pembelajaran yang mengedepankan ketulusan dan perhatian terhadap kondisi psikologis peserta didik.
TANJUNGPINANG — Seluruh madrasah di Kepulauan Riau kini mengacu pada Kurikulum Berbasis Cinta dalam proses belajarnya. Program yang digagas Menteri Agama Nasaruddin Umar ini bergulir sejak 2025 dan menyasar pembentukan karakter siswa.
Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Kepri Edi Batara mengatakan, pendekatan ini lahir dari kebutuhan untuk merangkul anak didik secara lebih manusiawi. "Seluruh proses pendidikan di lingkungan madrasah harus dijalankan dengan ketulusan, rasa peduli, dan pendekatan psikologis, yang merangkul anak didik," katanya di Tanjungpinang, Selasa.
Empat Pilar yang Menopang Kurikulum
Edi menjelaskan, kurikulum ini berdiri di atas empat pilar utama yang saling terhubung. Pilar pertama adalah cinta kepada Tuhan (habluminallah), yang mengajak siswa melakukan evaluasi diri agar konsisten dan taat beribadah.
Pilar kedua, cinta kepada sesama manusia (habluminannas), membimbing siswa untuk membiasakan sikap empati. Adapun pilar ketiga menekankan cinta kepada lingkungan (hablum bi'ah) dengan mendorong siswa aktif merawat alam sekitar.
Pilar keempat adalah cinta kepada tanah air (hubbul wathan). Nilai ini bertujuan memupuk jiwa nasionalisme sejak dini di lingkungan madrasah.
Selaras dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara
Edi menilai prinsip pendidikan Ki Hajar Dewantara sangat selaras dengan filosofi Kurikulum Berbasis Cinta. Keduanya sama-sama menempatkan murid sebagai pusat proses belajar, bukan sekadar objek penerima materi.
Semangat Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani menjadi landasan guru dalam bertindak. Guru berperan memberi teladan kasih sayang, mendampingi dengan empati, serta mendorong potensi anak di lingkungan sekolah yang aman dan humanis.
Integrasi ke Mata Pelajaran dan Panduan Guru
Penerapan kurikulum ini tidak berdiri sendiri. Edi menambahkan, nilai-nilai cinta akan disesuaikan dengan jenjang pendidikan dan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada.
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI telah menyusun buku panduan bagi para pendidik. Buku tersebut menjadi acuan untuk menyisipkan nilai cinta, toleransi, dan spiritualitas dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
"Ketika rasa cinta kepada Tuhan, orangtua, guru, dan teman sudah tertanam kuat maka karakter mulia, budi pekerti luhur, dan empati tinggi akan tumbuh dengan sendirinya," ucap Edi.
Ia berharap pendekatan ini melahirkan lulusan madrasah yang tidak hanya cerdas secara akademis. "Melalui pendekatan ini diharapkan dapat melahirkan lulusan madrasah yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga bertakwa dan peduli," tuturnya.