JAKARTA — Dua raksasa migas dunia, bp dan INPEX, bergerak cepat memburu potensi cadangan gas di perairan Bali. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan bahwa Menteri ESDM telah menandatangani persetujuan pengalihan participating interest (PI) WK Agung I dan Agung II pada 7 September 2026.
Dengan persetujuan itu, komposisi kepemilikan saham di kedua wilayah kerja kini dipegang setara: 50% bp dan 50% INPEX. Tak ada lagi pemegang PI sebelumnya dalam struktur baru ini.
Seismik 2D dan 3D Sepanjang Ribuan Kilometer
Para pemegang PI sepakat mengebut eksplorasi. Nilai investasi untuk kegiatan seismik di WK Agung I dan Agung II diperkirakan menembus US$42,7 juta. Survei ini mencakup seismik 2D sepanjang 285 km dan seismik 3D sepanjang 3.650 km.
Kegiatan seismik direncanakan berlangsung hingga awal 2027. Setelah data terkumpul, tahap berikutnya adalah analisis dan interpretasi untuk menentukan titik prospek pengeboran.
Djoko menyebut potensi hidrokarbon di wilayah tersebut berada di kisaran 1–7 TCF. Jika ditemukan cadangan yang ekonomis, produksi diperkirakan mencapai sekitar 200 MMSCFD.
US$25 Juta untuk Satu Sumur Eksplorasi
Jika analisis seismik menunjukkan potensi hidrokarbon signifikan, eksplorasi akan dilanjutkan dengan pengeboran satu sumur eksplorasi. Nilainya sekitar US$25 juta sebagai komitmen pasti.
"Apabila dari analisis hasil seismik nantinya menemukan adanya potensi hydrokarbon yang besar maka akan dilanjutkan dengan pengeboran satu sumur eksplorasi senilai US$25 juta sebagai komitmen pasti," ujar Djoko dalam keterangannya, Sabtu (12/9).
Pada 10 September 2026, pimpinan bp dan INPEX bersama jajaran SKK Migas dan pemerintah daerah Bali menggelar pertemuan dengan Gubernur Bali di Kantor Gubernur Bali. Agenda utamanya membahas percepatan survei seismik yang menjadi pintu masuk pemetaan potensi hidrokarbon bawah laut Bali.
Upacara Adat Sebelum Seismik Dimulai
Dukungan datang dari Pemerintah Provinsi Bali. Gubernur Bali dijadwalkan menggelar upacara adat di laut Bali pada 24 September 2026 sebelum kegiatan seismik dimulai. Djoko menyebut upacara itu sebagai bentuk kearifan lokal sekaligus permohonan agar eksplorasi berjalan aman dan lancar.
Berdasarkan perhitungan Gubernur Bali, pelaksanaan survei seismik ditargetkan mulai pada 22 Oktober 2026. "Adapun menurut hitungan Bapak Gubernur, hari keberuntungan maksimal pelaksanaan seismic dimulai pada bulan depan, Oktober tanggal 22," ujar Djoko.
Selain Agung I dan Agung II, Gubernur Bali juga disebut sangat mendukung kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas di WK Barong, yang berada di lepas pantai bagian utara Pulau Bali.
Alasan SKK Migas Optimistis
Djoko menegaskan SKK Migas, pemerintah daerah, bp dan INPEX memiliki semangat yang sama untuk mempercepat seluruh rangkaian eksplorasi. "SKK, Pemda, INPEX dan bp mempunyai semangat yang sama untuk mempercepat kegiatan seismic, analysis data seismic dan pengeboran eksplorasi," katanya.
Keyakinan Djoko beralasan. Menurutnya, bp dan INPEX punya rekam jejak menemukan cadangan gas raksasa di Tangguh Papua dan Masela Maluku. Keduanya juga dinilai memiliki teknologi terkini, pendanaan besar, serta sumber daya manusia yang mumpuni.
"Kami sangat yakin dan optimis dua raksasa Jepang, INPEX, dan Inggris, bp, bukan kaleng-kaleng karena sangat berpengalaman menemukan cadangan gas yang sangat besar di Tangguh Papua dan Masela Maluku, mempunyai teknologi terkini dan dana yang besar serta sumber daya manusia yang mumpuni dan sangat profesional," ujar Djoko.
Jika seismik berjalan sesuai jadwal, laut Bali berpotensi menjadi salah satu frontier eksplorasi gas terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Potensi 7 TCF setara dengan pasokan gas nasional selama bertahun-tahun, meski angkanya baru bisa dipastikan setelah pengeboran eksplorasi rampung.