KEPULAUAN RIAU — Data Badan Pusat Statistik (BPS) menempatkan gastronomi sebagai salah satu magnet pariwisata Indonesia. Dari seluruh wisman yang datang sepanjang 2025, 58,34 persen di antaranya menyempatkan diri mencicipi hidangan lokal, mengikuti tur kuliner, atau mengunjungi sentra makanan tradisional.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai angka tersebut menunjukkan makanan tidak lagi sekadar kebutuhan selama perjalanan. Kuliner menjadi pintu masuk wisatawan untuk mengenal budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia.
"Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa 58,34 persen dari wisatawan yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2025 melakukan aktivitas wisata kuliner atau gastronomi," kata Widiyanti dalam konferensi pers Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026 di Jakarta, Selasa.
Modal 17 Ribu Pulau dan Ekosistem Panjang
Indonesia punya lebih dari 17 ribu pulau dengan tradisi kuliner yang tumbuh dari hasil pertanian, laut, dan kebudayaan lintas generasi. Gastronomi tidak berhenti di meja makan. Ada ekosistem panjang di belakangnya: petani, nelayan, peternak, produsen pangan, juru masak, pelaku usaha, hingga masyarakat yang menjaga resep warisan.
"Salah satu aset terbesar Indonesia sebagai destinasi wisata yaitu warisan gastronomi yang begitu kaya dan berakar kuat pada budaya masyarakat," ujar Widiyanti.
Kementerian Pariwisata menargetkan 16-17 juta kunjungan wisman hingga akhir 2026. Sepanjang Januari-Juli 2026, jumlah kunjungan tercatat 8,98 juta.
WIG 2026 di Solo dan Yogyakarta, 26 September-4 Oktober
Kementerian Pariwisata bersama Indonesia Gastronomy Network (IGN) mengusung program Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026. Tema yang diangkat: "From Local Roots to Global Recognition".
Rangkaian acara berlangsung di Solo dan Yogyakarta pada 26 September hingga 4 Oktober 2026. Kegiatan akan mengangkat cerita di balik hidangan, mulai dari asal-usul bahan, kearifan lokal, tradisi, filosofi makanan, hingga cara kekayaan itu dikemas menjadi pengalaman gastronomi yang relevan dengan wisata masa kini.
Dampak Langsung ke UMKM
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini menyebut aktivitas wisata kuliner wisman berdampak langsung pada pelaku usaha kecil.
"Ini bukan saja menarik wisatawan mancanegara untuk datang, tetapi juga langsung mengenai UMKM-UMKM," kata Made.
Kolaborasi juga dijalin bersama Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) lewat festival kuliner di pusat perbelanjaan. Beragam promosi dan potongan harga disiapkan untuk mendorong wisatawan mencoba lebih banyak hidangan Nusantara sekaligus meningkatkan belanja selama berwisata.
"Kalau di mal itu pujaseranya rata-rata makanan Indonesia ya, bukan restorannya, itu salah satu cara," ujar Made.
Selera Generasi Z dan Milenial Dorong Tren Baru
Ketua Indonesia Gastronomy Network Vita Datau melihat tren wisata kuliner bergerak ke arah pengalaman menikmati hidangan berkualitas. Preferensi wisatawan semakin beragam dan dipengaruhi selera personal. Media sosial mempercepat tren ini, terutama lewat peran generasi Z dan milenial yang aktif membagikan pengalaman makan mereka.
"Misalnya ia suka makanan pedas, dia akan mengarah pada (tempat yang menjual makanan) Manado, begitu misalnya," kata Vita.
Kondisi itu menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaku usaha kuliner. Kementerian Pariwisata dinilai perlu terus mendampingi pelaku usaha agar kualitas produk meningkat dan naik kelas.
Bagi wisatawan yang ingin menjadikan kuliner sebagai tema perjalanan, WIG 2026 di Solo dan Yogyakarta bisa masuk daftar rencana akhir September nanti. Informasi terkini soal jadwal mata acara, lokasi venue, dan cara ikut serta dapat dikonfirmasi lewat kanal resmi Kementerian Pariwisata atau Indonesia Gastronomy Network.