Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) menutup sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan Senggarang, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, setelah sidak menemukan sejumlah persyaratan operasional belum memenuhi ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN). Penutupan dilakukan langsung oleh Ketua Satgas MBG yang juga Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura, Jumat, usai meninjau dapur pengolahan makanan program tersebut. Koordinator BGN wilayah Riau dan Kepri telah menginstruksikan penutupan hingga pengelola melengkapi dokumen yang diminta.
TANJUNGPINANG — Inspeksi mendadak ke dapur SPPG Senggarang menemukan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang bermasalah. Dapur tersebut juga belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan. Dua temuan itu menjadi dasar penutupan sementara operasional SPPG.
"Dari hasil sidak di lapangan, kami temukan persoalan pada sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), termasuk SPPG yang belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan," kata Nyanyang di Tanjungpinang, Jumat.
Apa Itu SLHS dan Mengapa Wajib Dimiliki SPPG?
SLHS merupakan salah satu persyaratan penting yang harus dipenuhi sebelum SPPG menjalankan kegiatan operasional. Sertifikat itu berkaitan dengan standar higiene dan sanitasi dalam penyediaan makanan untuk program MBG.
Koordinator BGN wilayah Riau dan Kepri telah menginstruksikan agar SPPG yang belum memenuhi persyaratan ditutup sementara. Instruksi itu berlaku sampai pengelola melengkapi dokumen yang diminta.
"Kalau belum melengkapi SLHS, tidak bisa melanjutkan operasional, sehingga SPPG harus ditutup sementara sembari mengurus SLHS," ujarnya.
Sumber Air di SPPG Senggarang Ikut Disorot
Selain persoalan IPAL dan SLHS, Nyanyang menyoroti sumber air yang digunakan untuk pengolahan bahan baku MBG di SPPG Senggarang. Air tersebut dinilai tidak memenuhi standar kesehatan BGN.
Setiap pengelola dapur MBG diminta memastikan sumber air yang digunakan jelas asalnya serta memenuhi standar yang telah ditetapkan. Temuan di lapangan menunjukkan air diisi ke dalam tangki tanpa diketahui asal-usulnya.
"Di SPPG Senggarang, air diisi dalam tangki tapi tak tau asalnya dari mana. Sumbernya harus jelas, apakah dari sumur bor atau lainnya," ujar dia.
Kepatuhan Standar Operasional Jadi Kunci Keamanan MBG
Kepatuhan terhadap standar operasional dapur SPPG menjadi bagian penting untuk memastikan MBG yang disalurkan kepada penerima manfaat tetap aman. Kualitas makanan yang diterima anak-anak penerima manfaat bergantung pada pemenuhan standar tersebut.
"Karena ini adalah untuk keberlangsungan anak-anak kita semuanya. Jangan sampai nanti program ini berjalan terus, tetapi tidak maksimal," demikian Nyanyang.
Pengelola SPPG Senggarang belum bisa melanjutkan operasional hingga SLHS diurus dan sumber air dipastikan memenuhi ketentuan BGN. Belum ada keterangan resmi mengenai berapa lama proses penutupan sementara ini akan berlangsung.