Pencarian

45 Negara Berminat Gabung BRICS, Lavrov Sebut Tekanan AS Tak Surutkan Minat

Minggu, 20 September 2026 • 10:05:31 WIB
45 Negara Berminat Gabung BRICS, Lavrov Sebut Tekanan AS Tak Surutkan Minat

KEPULAUAN RIAU — Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan 45 negara telah mengajukan permohonan atau menyampaikan minat bergabung dengan BRICS, kelompok ekonomi yang kini dipandang sebagai prototipe tatanan dunia multipolar. Angka itu bertahan meski Amerika Serikat dan sekutunya gencar menekan negara-negara berkembang agar menjauh dari blok tersebut.

Pernyataan Lavrov disampaikan seusai India menjadi tuan rumah KTT BRICS ke-18 di New Delhi pada 12–13 September 2026. Dikutip dari Watcher Guru, Sabtu (19/9/2026), ia menyebut ketertarikan negara berkembang datang dari dua kelompok: negara yang ingin menjadi anggota penuh dan negara yang berminat berstatus mitra.

Minat Datang dari Anggota Penuh hingga Mitra

Menurut Lavrov, tekanan negara-negara Barat tidak memadamkan antusiasme terhadap BRICS. Ia menilai AS dan sekutunya justru secara terbuka menyatakan kelompok ini sebagai lawan dari kemajuan.

"Saya tidak melihat adanya penurunan minat terhadap BRICS akibat tekanan negara-negara Barat, khususnya AS, yang secara terbuka menyatakan BRICS sebagai musuh utama kemajuan," ujar Lavrov.

Ia menambahkan, ketertarikan itu bersumber dari pemahaman negara-negara berkembang bahwa BRICS menawarkan kerangka kerja sama yang lebih setara dibandingkan forum-forum lama yang didominasi kekuatan Barat.

"Minat itu ada karena masyarakat memahami bahwa BRICS merupakan prototipe tatanan dunia multipolar di masa depan," kata Lavrov.

Bangladesh Masih Menunggu Keputusan Anggota

Rusia sebelumnya menyatakan dukungan terhadap pencalonan Bangladesh sebagai anggota BRICS. Meski demikian, pengajuan resmi Bangladesh masih dalam tahap pertimbangan anggota kelompok, belum ada keputusan final soal penerimaannya.

Proses keanggotaan BRICS memang tidak seragam. Sebagian negara masuk sebagai anggota penuh, sebagian lain memilih jalur mitra yang memberi ruang kerja sama tanpa komitmen kelembagaan penuh. Dua jalur ini yang membuat jumlah negara berminat terus bertambah.

Ancaman Tarif AS Jadi Ujian bagi Calon Anggota

Washington berulang kali mengisyaratkan konsekuensi dagang bagi negara yang bergabung dengan BRICS, termasuk ancaman tarif. Bagi negara berkembang yang perekonomiannya masih bergantung pada ekspor ke pasar AS, pilihan ini bukan tanpa risiko.

Namun Lavrov menilai ancaman tersebut belum mengubah kalkulasi banyak negara. Ketertarikan justru dianggap sebagai sinyal bahwa negara berkembang mencari alternatif dari tatanan ekonomi yang selama ini berpusat pada dolar AS dan lembaga keuangan Bretton Woods.

Bagi pelaku bisnis dan investor di kawasan, arah ekspansi BRICS menjadi indikator penting. Setiap penambahan anggota berpotensi mengubah peta perdagangan, aliran investasi, hingga kesepakatan mata uang lokal yang bisa mengurangi ketergantungan pada dolar dalam transaksi lintas negara.

Ekspansi Berlanjut, Tapi Belum Ada Tenggat Resmi

Jumlah 45 negara yang berminat menandakan BRICS masih menjadi magnet bagi negara berkembang, terutama di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Yang belum jelas adalah kapan dan berapa banyak dari mereka yang benar-benar diterima.

Keputusan akhir ada di tangan anggota yang sudah bergabung. Sampai itu terjadi, status Bangladesh dan puluhan negara lain masih menggantung di meja perundingan, sementara tekanan dari Barat diperkirakan terus berlanjut menjelang pertemuan-pertemuan berikutnya.

Follow kepriline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks