Ketua Dekranasda Kepulauan Riau Dewi Kumalasari menutup Dekrafest 2026 di Gedung Dekranasda Kepri, Tepi Laut, Kota Tanjungpinang, Senin (21/9) malam. Kegiatan yang diikuti 52 stan dari tujuh kabupaten/kota itu disebut sebagai ruang memperkenalkan kriya dan kreativitas pelaku ekonomi kreatif daerah. Dekranasda menyiapkan sejumlah langkah lanjutan agar produk UMKM Kepri menjangkau pasar lebih luas.
TANJUNGPINANG — Pameran Dekrafest 2026 di Gedung Dekranasda Kepri, Tepi Laut, resmi ditutup dengan catatan 52 stan peserta. Peserta berasal dari tujuh kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau yang masing-masing menampilkan produk kriya dan karya lokal.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kepri Dewi Kumalasari menyebut ajang itu sebagai ruang memperkenalkan kekayaan kriya dan kreativitas pelaku ekonomi kreatif Kepri. Menurut dia, kegiatan tersebut sekaligus mendorong produk lokal menjangkau pasar yang lebih luas.
Strategi Pemasaran yang Ditempuh Dekranasda Kepri
Dekranasda Kepri tidak berhenti pada pameran tahunan. Dewi menyatakan berbagai upaya memperluas pemasaran terus dilakukan, salah satunya melalui keikutsertaan dalam pameran di Makassar, Sulawesi Selatan, dengan membawa produk kriya dan karya UMKM Kepri.
Upaya itu dilanjutkan dengan keikutsertaan dalam INACRAFT di Jakarta sebagai salah satu ajang kerajinan nasional. "Dekrafest jadi ruang memperkenalkan kekayaan kriya dan kreativitas pelaku ekonomi kreatif Kepri, sekaligus mendorong produk lokal menjangkau pasar yang lebih luas," kata Dewi saat menutup Dekrafest 2026.
Selain pameran, Dekranasda Kepri mendorong kegiatan Dekra Business Match serta membangun kerja sama dengan pihak perhotelan. Langkah itu diharapkan mempertemukan pelaku UMKM dengan pasar dan mitra usaha sehingga peluang pemasaran produk lokal semakin terbuka.
Pengembangan Motif hingga Penyesuaian Desain Produk Tenun
Peningkatan kualitas produk menjadi perhatian Dekranasda Kepri bersama para mitra, termasuk Bank Indonesia. Pengembangan produk tenun Kepri dilakukan melalui pengembangan motif, pemilihan warna, hingga penyesuaian desain dengan perkembangan dan kebutuhan pasar.
Dewi menegaskan produk tradisional tidak harus berhenti pada bentuk yang sama. Produk tersebut tetap bisa dijaga sekaligus dikembangkan dengan inovasi seiring perkembangan zaman.
"Dengan demikian, berbagai produk Kepri tetap memiliki identitas kebudayaan, namun sekaligus mampu menjawab selera dan kebutuhan konsumen masa kini," kata dia lagi.
Tantangan UMKM: Tren, Teknologi, hingga Selera Konsumen
Dewi yang juga Wakil Ketua DPRD Kepri itu menyampaikan tantangan UMKM saat ini semakin beragam. Mulai dari perubahan tren, persaingan pasar, perkembangan teknologi, hingga perubahan selera konsumen.
Karena itu, pelaku UMKM perlu terus bergerak, beradaptasi, dan berinovasi tanpa kehilangan identitas budaya yang menjadi kekuatan produknya. Dekranasda Kepri berharap semakin banyak produk UMKM terjual, semakin banyak transaksi tercipta, dan semakin besar perputaran ekonomi yang dirasakan pelaku UMKM.
"Dekranasda akan terus menjalankan perannya sebagai jembatan antara UMKM dengan pasar, mitra usaha, pemerintah dan berbagai pihak yang dapat membuka peluang bagi perkembangan kriya dan karya Kepri," ujarnya pula.
Dewi menutup dengan ajakan kepada pelaku ekonomi kreatif daerah untuk terus mengembangkan karya. "Mari bersama-sama kita kembangkan ekonomi kreatif dan kita banggakan karya anak Kepri. Dari karya tumbuh ekonomi, dari budaya lahir kebanggaan," demikian Dewi.