KEPULAUAN RIAU — Turis China ramai membeli pakaian murah hanya demi foto liburan, lalu dibuang atau dijual kembali setelah pulang. Model yang dipilih dibanderol 10-50 yuan (Rp26 ribu-Rp133 ribu), dengan tagar tren ini menembus 6,8 juta tayangan di media sosial China.
Fenomena yang dijuluki disposable clothing atau pakaian sekali pakai ini menyebar lewat unggahan wisatawan di platform digital China. Seorang turis wanita mengaku hanya menghabiskan kurang dari 200 yuan (sekitar Rp534 ribu) untuk lima potong pakaian selama perjalanan tujuh hari, tanpa niat menyimpannya setelah liburan usai, melansir South China Morning Post.
Pakaian itu dipilih karena tampil estetis di depan kamera, bukan karena akan dipakai berulang. Jenisnya mulai dari gaun etnik berenda, jubah pantai, hingga jaket warna mencolok, menurut laporan News Pedaily.
Apa Itu Disposable Clothing
Istilah ini merujuk pada pakaian bertema khusus yang dibeli hanya untuk dipakai satu atau dua kali saat berfoto. Desainnya dianggap terlalu mencolok atau formal jika dikenakan dalam kehidupan sehari-hari.
Harga murah jadi kunci tren ini. Dengan rentang 10-50 yuan per potong, wisatawan bisa tampil beda di setiap lokasi foto tanpa menguras anggaran perjalanan.
Perdebatan Warganet: Hemat atau Boros Limbah
Tagar terkait tren ini mengumpulkan lebih dari 6,8 juta tayangan dan memicu 135 ribu diskusi di satu platform digital. Sebagian warganet mendukung karena dinilai menghemat anggaran liburan.
"Ini ide yang bagus dan sangat membantu menghemat anggaran liburan," tulis salah satu warganet di media sosial.
Kritik datang dari kelompok pemerhati lingkungan yang menyoroti lonjakan limbah tekstil. "Makin banyak pakaian yang dibuang, makin besar limbah yang kita ciptakan," tulis warganet lainnya.
Data Limbah Tekstil Global
Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mencatat sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan secara global setiap tahun. Produksi tekstil dunia melonjak dua kali lipat antara tahun 2000 dan 2015, sementara usia pemakaian pakaian merosot hingga 36 persen.
Data tahun 2023 menunjukkan hanya delapan persen serat tekstil yang berasal dari bahan daur ulang. Produk pakaian dan tekstil menyumbang sekitar 11 persen dari total sampah plastik dunia.
Dampak bagi Industri Fesyen Travel
Tren ini mendorong perputaran cepat produk fesyen murah di destinasi wisata China. Wisatawan cenderung membeli di lokasi tujuan ketimbang membawa lemari pakaian lengkap dari rumah.
Bagi pelaku usaha lokal, pola belanja sekali pakai membuka ceruk pasar baru. Namun tekanan pada sistem pengelolaan sampah daerah tujuan wisata ikut meningkat seiring volume pakaian yang ditinggalkan.
Wisatawan yang ingin mengikuti tren serupa bisa mempertimbangkan opsi sewa pakaian atau membeli dari penjual lokal untuk mengurangi jejak limbah. Informasi terkini soal regulasi limbah tekstil di tiap destinasi dapat dikonfirmasi ke otoritas lingkungan setempat.