KEPULAUAN RIAU — Film Digger yang dibintangi Tom Cruise hanya meraup 8 juta dolar AS di pasar domestik dan 20 juta dolar AS secara global pada akhir pekan pembukaannya. Perolehan itu jauh di bawah proyeksi awal 12 juta hingga 15 juta dolar AS, serta tak menyentuh angka 40 juta dolar AS yang dinilai ideal untuk film sebesar ini.
Warner Bros. menanggung taruhan mahal lewat Digger, komedi gelap absurd yang disutradarai Alejandro G. Iñárritu. Dengan biaya produksi 160 juta hingga 180 juta dolar AS, plus sekitar 100 juta dolar AS untuk pemasaran, titik impas teaternya diperkirakan mencapai 350 juta dolar AS secara global.
Seorang juru bicara studio menyebut angka break-even film ini di 300 juta dolar AS. Namun karena pendapatan Digger masih jauh dari dua perkiraan itu, film tersebut berpotensi merugi 150 juta hingga 200 juta dolar AS dari jalur teater saja.
Respons Kritikus dan Penonton
Nama besar Cruise ternyata tak cukup menjual satire lingkungan berating R tentang taipan minyak yang memicu potensi bencana global. Ulasan dan mulut ke mulut jadi penentu, dan keduanya tak berpihak pada Digger.
Film ini mengantongi skor 51 persen di Rotten Tomatoes serta nilai C+ dari survei penonton CinemaScore. Warner Bros. sempat mencoba merangkul kritik negatif lewat unggahan di Instagram dan X yang mengajak orang "menentukan sendiri," setelah ulasan menyebut film ini "tidak menyenangkan" dan "membingungkan."
Judi Kreatif yang Berbiaya Tinggi
Langkah berani studio sebenarnya sempat membuahkan hasil. Film horor Sinners, yang digarap dengan biaya 90 juta dolar AS, sukses mengumpulkan 371 juta dolar AS. Namun sebagian besar taruhan berbiaya besar lainnya justru merugi, mulai dari Joker: Folie à Deux (2024), Mickey 17 (2025), hingga The Bride! (2026).
Iñárritu punya rekam jejak komersial yang solid lewat Birdman (2014) dan The Revenant (2015). Kombinasi itu yang membuat co-chair Warner Bros., Michael De Luca dan Pamela Abdy, berani mengucurkan dana besar untuk Digger.
Pasar Internasional Ikut Menolak
Penonton mancanegara semula diharapkan jadi penyelamat setelah proyeksi domestik anjlok menjelang rilis. Harapan itu pupus. Digger hanya mengumpulkan 12 juta dolar AS dari 73 pasar luar negeri.
Sebuah materi promosi Warner Bros. bahkan sempat menyiratkan bahwa hanya penonton Amerika yang tidak menyukai Digger. Kenyataannya, penolakan terjadi merata di dalam dan luar negeri.
Tur Promosi yang Tak Menyatu dengan Penonton
Cruise dikenal jarang berbicara ke media, dan itu biasanya tak jadi masalah untuk sekuel Mission: Impossible atau Top Gun. Ia bisa menjual film lewat aksi stunt berbahaya, seperti memanjat Burj Khalifa atau menerbangkan jet tempur sungguhan.
Untuk Digger, atraksi satu-satunya adalah duduk enam jam di kursi makeup demi mengenakan fat suit. Cruise memang tampil di sejumlah kanal, termasuk podcast New Heights milik Travis dan Jason Kelce, menjadi sampul GQ untuk pertama kali dalam dua dekade, hingga menari di spirit tunnel The Jennifer Hudson Show.
Dalam wawancara itu, ia menghindari pertanyaan tajam dan mengalihkan setiap jawaban menjadi pujian untuk layar lebar. Alih-alih menumbuhkan antusiasme, upaya promosinya justru memecah publik dan gagal menggerakkan penjualan tiket.
Digger menjadi rilis mandiri terakhir Warner Bros., studio berusia 103 tahun, sebelum merger dengan Paramount yang diperkirakan rampung pekan ini.