KEPULAUAN RIAU — Delapan maestro Indonesia dari musik hingga seni rupa meninggalkan karya yang masih hidup lintas generasi. Ismail Marzuki lewat "Rayuan Pulau Kelapa" sampai Gesang dengan "Bengawan Solo" yang diterjemahkan ke lebih dari 13 bahasa asing jadi buktinya. Jejak mereka bertahan lewat rekaman ulang, pameran, dan festival musik.
Karya para komponis dan seniman rupa legendaris Indonesia terbukti tidak pudar dimakan zaman. Komposisi musik mereka terus dihidupkan kembali lewat daur ulang, pameran, dan apresiasi generasi muda. Siklus regenerasi seni ini diperkuat riset akademis soal pentingnya preservasi warisan budaya.
Daya hidup karya maestro musik Indonesia luar biasa karena karakter lirik dan refleksinya yang kuat. Studi etnografi seni rupa juga menempatkan karya pelukis Klasik Nusantara sebagai fondasi identitas visual bangsa di kancah internasional. Berikut deretan maestro yang karyanya tetap populer setelah puluhan tahun.
1. Ismail Marzuki
Ismail Marzuki (1914–1958) dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional berkat kontribusinya mengobarkan semangat perjuangan dan romansa Nusantara. Karya ciptaannya seperti "Rayuan Pulau Kelapa" (1944), "Sepasang Mata Bola" (1946), "Indonesia Pusaka", hingga "Gugur Bunga" tetap jadi lagu wajib nasional.
Lagu-lagu Ismail Marzuki terus direkam ulang berbagai band modern seperti Endank Soekamti dan Sheila On 7. Namanya diabadikan sebagai pusat kesenian dan kebudayaan utama di ibu kota, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Ratusan komposisi musiknya tetap jadi fondasi sejarah musik pop dan keroncong Indonesia.
2. Gesang Martohartono
Gesang Martohartono (1917–2010) dikenal sebagai "Maestro Keroncong Indonesia". Karya fenomenalnya, "Bengawan Solo", diciptakan pada 1940 saat usianya baru 23 tahun. Lagu itu melampaui sekat negara dan diterjemahkan ke lebih dari 13 bahasa asing, termasuk Jepang, Rusia, Inggris, dan Mandarin.
Penghormatan terhadap karya Gesang diwujudkan lewat pendirian Taman Gesang di Jepang. Nomor keroncong klasik seperti "Jembatan Merah" dan "Caping Gunung" ciptaannya terus dirawat komunitas musik muda. Lagu-lagu itu kerap dibawakan dalam festival musik lintas generasi.
3. Titiek Puspa
Titiek Puspa mengukir perjalanan kreatif lebih dari enam dekade di musik Indonesia. Salah satu mahakaryanya yang paling ikonik adalah "Kupu-Kupu Malam" yang diciptakan pada 1977. Lagu bernuansa empati tinggi itu memotret sisi humanis kehidupan tanpa stigma negatif.
Lagu-lagu ciptaan Titiek Puspa tidak kehilangan relevansi dan terus diinterpretasikan ulang musisi papan atas. Grup band Peterpan (kini NOAH) membawakan ulang "Kupu-Kupu Malam" dengan aransemen modern. Versi itu memperkenalkan karya Titiek kepada pendengar millennial dan Gen Z.
4. I Gusti Putu Gede Wedhasmara
I Gusti Putu Gede Wedhasmara (1932–2017) adalah komponis maestro asal Bali yang melahirkan lagu-lagu puitis pada era 1960-an dan 1970-an. Karyanya seperti "Senja di Batas Kota", "Kau Selalu di Hatiku", dan "Berpisah di St. Carolus" dipopulerkan Ernie Djohan dan Retno. Majalah Rolling Stone Indonesia menempatkannya dalam jajaran pencipta lagu terbaik sepanjang masa.
Meski lagunya lebih populer daripada sosoknya, lirik ciptaan Wedhasmara dikenal kuat dan ekonomis dalam pemilihan kata. Lagu-lagunya terus diarasemen ulang dalam berbagai genre, dari pop hingga electronic dance music (EDM), di pergelaran seni nasional.
5. James F. Sundah
James F. Sundah menggebrak industri musik Tanah Air saat menulis "Lilin-Lilin Kecil" di usia 21 tahun. Lagu itu dibuat untuk Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1977. Komposisi emosional tersebut melejitkan nama penyanyi Chrisye sekaligus jadi anthem harapan yang bertahan melintasi dekade.
Menurut catatan diskografi nasional, "Lilin-Lilin Kecil" telah direkam ulang lebih dari 50 penyanyi dan grup musik lintas generasi. Struktur melodi dan liriknya terbukti mampu menyentuh pendengar dari masa ke masa.
6. Raden Saleh
Di ranah seni rupa, Raden Saleh (1811–1880) diakui sebagai pionir lukis Indonesia yang mendunia. Karyanya menjadi fondasi identitas visual bangsa di kancah internasional. Jejak Raden Saleh membuktikan seni rupa Nusantara punya tempat di panggung dunia.
Popularitas karya para maestro ini jadi bukti kekayaan intelektual Indonesia yang tak lekang waktu. Rekaman ulang, pameran, dan festival musik lintas generasi menjaga warisan mereka tetap hidup. Publik Indonesia dari berbagai usia masih menikmati karya-karya tersebut hingga kini.