Satelit Uni Eropa Deteksi 946 Titik Panas Karhutla, Rumah Sakit Kewalahan Tangani ISPA

Penulis: Teuku Fahreza  •  Sabtu, 05 September 2026 | 10:22:31 WIB
Citra satelit Copernicus Sentinel-2 merekam kebakaran aktif di Ketapang, Kalimantan Barat, pada 2 September 2026.

KEPULAUAN RIAU — Citra satelit Copernicus Sentinel-2 milik Uni Eropa merekam kebakaran aktif di Ketapang, Kalimantan Barat, pada 2 September 2026. Area terbakar tampak berwarna jingga-merah, sementara kepulan asap abu-putih membentang ke arah barat menuju pantai. Data Sistem Pemantauan Kebakaran SiPongi mencatat 946 titik panas di Indonesia pada 31 Agustus lalu.

Kementerian Kesehatan melaporkan puluhan ribu kasus ISPA akibat paparan asap karhutla. Angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah mengingat musim kemarau diprediksi berlangsung hingga akhir tahun.

El Nino dan IOD Positif Perparah Kebakaran Gambut

Robert Field, peneliti Columbia University yang mengembangkan Global Fire Weather Database, mengatakan aktivitas kebakaran tahun ini menunjukkan kemiripan dengan peristiwa 2015. Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kebakaran, tetapi penyebaran apinya sudah meluas tajam.

Kondisi itu dipicu penguatan El Nino sejak Agustus 2026 yang bertepatan dengan fase positif Indian Ocean Dipole. Kombinasi keduanya menekan curah hujan dan membuat lahan gambut semakin kering. Hingga 2 September, kebakaran tahun ini diperkirakan telah melepaskan sekitar 10 persen dari total emisi kebakaran besar 2015.

Ancaman terbesar justru berasal dari api yang membakar lapisan gambut di bawah permukaan tanah. Kebakaran jenis ini sulit dipadamkan karena material organik terus terbakar meski kobaran api di permukaan tidak terlihat, dan baru berhenti ketika hujan deras turun.

Kualitas Udara Memburuk, Rumah Sakit Kewalahan

Dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan lingkungan. Data Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 50.000 kasus ISPA sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Sebanyak 12.000 pasien di antaranya anak-anak berusia di bawah lima tahun, kelompok paling rentan terhadap gangguan pernapasan.

Situasi kebakaran di Ketapang sebelumnya sempat meningkat hingga mendorong penanganan darurat. Kualitas udara di sejumlah lokasi dilaporkan memburuk hingga masuk kategori tidak sehat bahkan berbahaya bagi kelompok sensitif.

Pemantauan Satelit Jadi Andalan Deteksi Dini

Teknologi satelit menjadi perangkat utama memantau kebakaran di wilayah luas. Sentinel-2 milik Uni Eropa menghasilkan citra resolusi tinggi yang membantu mengidentifikasi area terbakar dan perubahan kondisi permukaan Bumi secara berkala.

Selain Copernicus, layanan Fire Emissions Watch dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) menyediakan informasi aktivitas kebakaran dan emisi yang dihasilkan. Data tersebut digunakan untuk menilai pengaruh kebakaran terhadap atmosfer dan kualitas udara, baik lokal maupun regional.

Indonesia juga memanfaatkan satelit Aqua milik NASA yang menangkap ratusan titik api di lahan gambut pada 1 September 2026. Sistem nasional seperti SiPongi membantu petugas mendeteksi titik panas, memantau penyebaran asap, dan merespons kebakaran di lapangan secara lebih cepat.

Citra satelit yang dipublikasikan pekan ini memperlihatkan bagaimana kebakaran di permukaan Bumi dapat dipantau secara detail dari angkasa. Pemantauan semacam ini menjadi semakin krusial selama musim kemarau ketika risiko karhutla meningkat tajam.

Reporter: Teuku Fahreza
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top