TANJUNGPINANG — BMKG Stasiun Meteorologi Raja Haji Fsabilillah (RHF) Tanjungpinang mencatat 1.142 titik panas atau hotspot di Pulau Bintan sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Sebarannya tidak merata: 1.124 titik berada di Kabupaten Bintan, sementara 18 titik lainnya terdeteksi di wilayah Kota Tanjungpinang.
Angka ini disebut Kepala BMKG Tanjungpinang Ahmad Kosasih masih bisa bertambah. Sebab, satelit pemantau tidak selalu menangkap seluruh titik api yang muncul di lapangan.
Resolusi Satelit dan Hari Tanpa Hujan yang Memperparah Kondisi
Kosasih menjelaskan, keterbatasan resolusi satelit membuat sebagian kebakaran lahan tidak terdeteksi. "Beberapa titik panas akibat sebaran kebakaran lahan tidak terdeteksi oleh satelit BMKG, karena resolusi satelit yang tidak dapat menangkap titik api secara menyeluruh," katanya di Tanjungpinang, Senin.
Tingginya titik panas di Pulau Bintan dipengaruhi kondisi cuaca kering yang ekstrem. Wilayah ini mengalami hari tanpa hujan cukup lama, terhitung sejak Juli hingga Agustus 2026. Kondisi tersebut membuat lahan semak dan vegetasi sangat mudah terbakar.
Data Karhutla: 150 Kejadian dalam Delapan Bulan
Wakil Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza menyebutkan, dampak musim kemarau terhadap karhutla di wilayah setempat cukup serius. Selama periode Januari hingga Agustus 2026, total 150 kejadian kebakaran menghanguskan lahan seluas 68 hektare.
Angka tersebut, kata dia, harus menjadi perhatian serius seluruh pihak. Karakteristik wilayah setempat yang memiliki banyak lahan semak serta kawasan perkotaan yang berbatasan langsung dengan vegetasi membuat risiko kebakaran meningkat cepat di tengah cuaca panas dan kering.
Imbauan Tegas: Jangan Buka Lahan dengan Cara Dibakar
BMKG mengimbau masyarakat di Pulau Bintan mewaspadai potensi kebakaran lahan yang masih tinggi. Warga diminta tidak melakukan aktivitas membuka lahan dengan cara dibakar mengingat kondisi lingkungan yang sangat rentan terhadap api.
"Mengingat kondisi lingkungan saat ini sangat rentan terhadap api, maka warga diharapkan tidak membuka lahan dengan dibakar," ujar Kosasih.
Raja Ariza menambahkan, koordinasi cepat menjadi kunci penanganan. Seluruh jajaran pemerintah hingga masyarakat diminta segera melapor apabila melihat atau mendapat informasi titik api.
"Makanya seluruh jajaran hingga masyarakat apabila melihat dan mendapat informasi titik api, segera berkoordinasi ke instansi terkait agar dapat ditangani sejak dini," kata Ariza.
Langkah tersebut dinilai krusial untuk mencegah meluasnya kebakaran di tengah kondisi cuaca yang belum menunjukkan tanda-tanda normal. Penanganan sejak dini diharapkan mampu menekan luas lahan terdampak dan mencegah kerugian yang lebih besar bagi warga serta lingkungan Pulau Bintan.