TANJUNGPIINANG — Kehadiran "Pesona Bahari Anambas" di Dekrafest 2026 bukan sekadar peragaan busana. Di balik selembar kain itu tersimpan cerita tentang pengrajin yang membutuhkan ruang berkembang, pelaku UMKM yang mencari pasar, dan desainer lokal yang mendambakan panggung untuk memperkenalkan gagasan mereka.
Batik tulis tersebut merupakan karya Batik Mangrove Genting Pulur, dengan desain oleh Inan Efendi. Kehidupan bahari Anambas diterjemahkan ke atas kain melalui motif mangrove, ikan, dan terumbu karang. Ikan-ikan digambarkan berenang di antara karang, membentuk gambaran tentang kehidupan laut yang saling terhubung.
Karakter visual batik ini dibangun lewat perpaduan warna biru dan peach. Biru merepresentasikan laut Anambas yang luas, tenang, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kepulauan. Sementara peach dimaknai sebagai kehangatan, kelembutan, keramahan, dan optimisme warga pesisir.
Ada pula simbol cahaya matahari yang menyinari laut dan terumbu karang. Desainnya dikembangkan dengan karakter modern, ringan, dan casual sehingga dapat digunakan dalam berbagai suasana, tidak terbatas pada acara formal.
Bagi Dekranasda Anambas, batik daerah tidak berhenti pada persoalan motif dan busana. Ada dimensi ekonomi masyarakat yang menyertainya, mulai dari pengrajin hingga pelaku usaha mikro yang membutuhkan akses pasar lebih luas.
Ketua Dekranasda Kabupaten Kepulauan Anambas, Ny. Sinta Aneng, menegaskan wastra daerah sebagai bagian dari identitas daerah. Ia berharap batik Anambas mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
"Wastra daerah bukan sekadar busana, tetapi merupakan bagian dari identitas dan cerita sebuah daerah. Melalui Batik Pesona Bahari Anambas, kita ingin memperkenalkan keindahan Anambas sekaligus mendorong para pelaku UMKM dan ekonomi kreatif agar semakin percaya diri mengembangkan karya lokal, harapannya Batik Anambas bisa naik kelas," ujar Sinta Aneng.
Frasa "naik kelas" menjadi kunci. Tantangan produk lokal bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga memastikan karya tersebut dikenal, diterima, dan memiliki pasar yang lebih luas. Panggung Dekrafest menjadi salah satu ruang untuk mewujudkannya.
Fashion show Dekrafest 2026 tidak hanya menampilkan Anambas. Sejumlah kabupaten dan kota di Kepulauan Riau turut ambil bagian, yakni Tanjungpinang, Bintan, Karimun, Lingga, dan Natuna. Masing-masing daerah membawa karakter dan kekayaan kreatifnya sendiri.
Di tengah keberagaman itu, Anambas memilih laut sebagai bahasa. Pilihan tersebut terasa dekat dengan identitas wilayah kepulauan, tempat laut bukan sekadar batas geografis melainkan ruang hidup, sumber penghidupan, dan bagian dari kebudayaan masyarakat.
Ketika motif ikan berenang di antara terumbu karang muncul di atas kain, yang ditampilkan bukan hanya ornamen. Ada cerita tentang hubungan manusia dan alam, tentang masyarakat pesisir, dan tentang sebuah daerah kepulauan yang memperkenalkan dirinya melalui karya.
Dari mangrove hingga terumbu karang, setiap motif membawa pesan bahwa kekayaan bahari tidak selalu harus dilihat dari hamparan laut atau panorama pulau-pulau. Ia bisa hadir dalam selembar kain, dikenakan, dipasarkan, dan menjadi identitas. Sekaligus menjadi jalan bagi karya pengrajin lokal untuk tumbuh bersama ekonomi daerah.