KEPULAUAN RIAU — Program tarif khusus Rp1 ini menyasar seluruh layanan Transjakarta tanpa terkecuali. Mulai dari Bus Rapid Transit (BRT), Non-BRT, Mikrotrans, hingga Transjabodetabek bisa diakses dengan biaya serendah satu rupiah.
Pemprov DKI memilih momentum libur sekolah dan perayaan ulang tahun kota untuk meluncurkan program ini. Harapannya, tarif murah bisa memperkuat kebiasaan warga menggunakan angkutan umum di tengah mobilitas yang meningkat.
Kepala Departemen Humas dan CSR PT Transjakarta, Ayu Wardhani, menyebut program ini bukan sekadar soal harga murah. “Program tarif Rp1 ini bukan hanya memberikan kemudahan akses transportasi yang terjangkau bagi masyarakat, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan pengalaman menggunakan transportasi publik kepada lebih banyak warga,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, Transjakarta melakukan penyesuaian armada pada koridor dan rute dengan permintaan tinggi. Saat ini, perusahaan mengoperasikan 14 koridor utama dengan total 244 rute dan 5.151 unit armada, termasuk bus listrik.
“Optimalisasi petugas layanan di titik-titik dengan potensi kepadatan pelanggan juga terus dilakukan, dengan tetap memastikan standar keamanan dan kenyamanan layanan tetap terjaga,” tambah Ayu.
Meski ada tambahan penumpang, jam operasional Transjakarta tidak diperpanjang. Layanan tetap berjalan normal seperti hari-hari biasa. Rata-rata, Transjakarta melayani 1,4 juta pelanggan setiap harinya.
Transjakarta mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan momentum ini sebagai ajakan beralih ke transportasi publik yang aman dan ramah lingkungan. Informasi terbaru soal layanan dan pembaruan operasional bisa diakses melalui media sosial resmi dan aplikasi Transjakarta.
“Transjakarta mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan momentum tarif khusus ini sebagai kesempatan beralih ke transportasi publik yang aman, nyaman, dan ramah lingkungan, sekaligus merencanakan perjalanan melalui kanal informasi resmi Transjakarta,” tutup Ayu.
Kebijakan tarif Rp1 ini menjadi salah satu upaya Pemprov DKI untuk mendorong penggunaan transportasi massal secara masif. Dengan harga yang hampir gratis, diharapkan budaya naik angkutan umum bisa semakin mengakar di kalangan warga Jakarta dan sekitarnya.