NATUNA — Sebanyak 95 petugas BPS diterjunkan ke 17 kecamatan di Natuna untuk mendata setiap unit usaha, dari skala besar hingga rumah tangga. Wahyudi mengatakan, pencanangan resmi Sensus Ekonomi 2026 digelar pada Senin (29/6) di Kecamatan Bunguran Timur sebagai bagian dari sosialisasi kepada masyarakat, meski pendataan di lapangan sudah dimulai dua pekan sebelumnya.
Sensus ini merupakan yang kelima kalinya sejak pertama kali digelar pada 1986. Berbeda dengan sensus sebelumnya, kali ini BPS menargetkan sekitar 32.000 responden — jumlah yang bisa berubah menyesuaikan temuan di lapangan.
"Tujuan sensus adalah untuk menyediakan data dasar yang akurat sebagai acuan penyusunan kebijakan pembangunan daerah untuk 10 tahun ke depan," kata Wahyudi di Natuna, Senin.
Seluruh petugas sensus telah menjalani pelatihan selama tiga hari agar proses pendataan berjalan sesuai standar. Hasil sensus nantinya akan menjadi basis data komprehensif mengenai aktivitas ekonomi di Natuna, yang dimanfaatkan pemerintah daerah dan pusat untuk menyusun kebijakan strategis.
Wahyudi menambahkan, pendataan mencakup usaha besar, menengah, kecil, mikro, hingga usaha rumah tangga yang tersebar di seluruh kecamatan. "Kami mengharapkan dukungan masyarakat dengan memberikan informasi yang benar dan sesuai kondisi sebenarnya kepada petugas sensus," ujarnya.
Sebagai kabupaten kepulauan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, data ekonomi di Natuna memiliki nilai strategis. Sensus ini diharapkan mampu memotret secara utuh struktur ekonomi daerah perbatasan, termasuk sektor informal yang kerap tidak tercatat dalam pendataan reguler.
BPS menargetkan sensus berlangsung selama 2,5 bulan. Hingga pertengahan Juli 2026, proses pendataan dilaporkan sudah berjalan sekitar setengah bulan dan terus berlanjut ke kecamatan-kecamatan terluar.