BINTAN — Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang menjadi motor penggerak ekonomi di Pulau Bintan. Hingga triwulan pertama tahun 2026, kawasan yang beroperasi sejak 2018 ini telah mempekerjakan 5.000 orang, didominasi tenaga kerja asal daerah setempat.
"KEK Galang Batang menjadi penggerak ekonomi daerah dan nasional, salah satunya melalui penyerapan tenaga kerja," ujar Kepala Administrator KEK Galang Batang Vita Budhi Sulistyo di Bintan, Selasa.
Selain menekan angka pengangguran, KEK Galang Batang juga mencatatkan realisasi investasi yang gemuk. Sepanjang tahun 2025, investasi di kawasan ini mencapai sekitar Rp15,6 triliun, menjadikannya penyumbang investasi terbesar di Bintan.
Memasuki triwulan I 2026, realisasi investasi kembali bertambah sekitar Rp4,08 triliun. Angka ini berkontribusi sekitar 71 persen dari total realisasi investasi Bintan sebesar Rp5,8 triliun pada periode yang sama.
Saat ini, terdapat 26 perusahaan yang beroperasi di KEK Galang Batang. Mayoritas merupakan perusahaan dengan skema Penanaman Modal Asing (PMA) yang didominasi investor asal Tiongkok. PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) menjadi perusahaan penggerak utama di kawasan ini.
PT BAI tengah fokus membangun dan menyelesaikan Smelter Grade Alumina (SGA) tahap II. Proyek ini ditargetkan meningkatkan kapasitas produksi hingga sekitar 4 juta ton per tahun. "PT BAI masih berfokus pada proses pemurnian bauksit menjadi SGA, sedangkan pembangunan fasilitas smelter akan dilakukan pada tahap berikutnya, menggunakan bahan baku bauksit yang dipasok dari Kalimantan Barat," ungkap Vita.
Selain proyek SGA, sejumlah investasi baru tengah dipersiapkan. Mulai dari pembangunan industri kaustik soda, fasilitas smelter, hingga pembangkit listrik untuk mendukung kawasan industri.
Kehadiran KEK Galang Batang tak hanya menggerakkan sektor industri besar. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kepri Hasfarizal Handra menyebutkan, sebagian pasokan kebutuhan logistik karyawan perusahaan dipasok dari UMKM lokal. Hal ini ikut mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.
KEK Galang Batang merupakan satu dari 14 KEK yang ada di Kepri. Jumlah ini menjadikan Kepri sebagai provinsi dengan kawasan ekonomi khusus terbanyak di Indonesia. Contoh lainnya adalah KEK Batam Aero Technic dan KEK Nongsa Digital Park di Kota Batam.
Hasfarizal menambahkan, keberadaan KEK mempermudah pelaku usaha berinvestasi karena menawarkan efisiensi birokrasi. "Administrator KEK siap memfasilitasi pelaku usaha atau investor, misalnya terkait perizinan, tanpa perlu repot-repot mengurus ke dinas terkait atau pemerintah pusat," kata dia.