TANJUNGPINANG — Rencana pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat kembali bergulir setelah sempat mandek lebih dari satu dekade. Proyek ini akan menjadi ikon baru kebahasaan di Tanah Air sekaligus pengingat bahwa Bahasa Indonesia lahir dari akar bahasa Melayu yang berkembang pesat di Kesultanan Riau-Lingga.
Pada 2014 lalu, proyek serupa pernah direncanakan namun gagal terealisasi. Kini, Pemprov Kepri mengalokasikan anggaran sebesar Rp101 miliar yang bersifat multiyears selama dua tahun anggaran, yakni 2026 hingga 2027. Sekretaris Daerah Provinsi Kepri Misni mengungkapkan, proses lelang akan dimulai pada Juli 2026, disusul peletakan batu pertama pada awal Agustus 2026.
“Proyek ini akan dibangun selama 17 bulan dan dijadwalkan selesai pada akhir 2027. Peresmiannya ditargetkan pada 2028, saat 100 tahun Sumpah Pemuda,” ujar Misni.
Pulau Penyengat bukan sekadar lokasi wisata sejarah. Di pulau inilah peradaban sastra Melayu mencapai puncaknya pada masa Kesultanan Riau-Lingga. Salah satu tokoh sentralnya adalah Raja Ali Haji, yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 5 November 2004. Karya-karyanya menjadi fondasi penting bagi pembakuan bahasa Melayu yang kemudian diikrarkan sebagai Bahasa Indonesia dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Pembangunan monumen ini bertujuan agar peran besar Pulau Penyengat dan Raja Ali Haji tidak dilupakan lintas generasi. Bukan hanya sebagai ikon wisata baru, tetapi juga sebagai pengingat bahwa isi ikrar ketiga Sumpah Pemuda—menjunjung bahasa persatuan—berakar dari tanah Melayu di Kepulauan Riau.
Keberadaan museum ini diharapkan menjadi pusat studi dan literasi kebahasaan. Pelajar, mahasiswa, hingga peneliti dari seluruh Indonesia bisa datang langsung ke Pulau Penyengat untuk mempelajari sejarah terbentuknya Bahasa Indonesia. Bagi warga Tanjungpinang, proyek ini juga berpotensi menggerakkan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata dan UMKM di sekitar kawasan Penyengat.
Pemprov Kepri memastikan monumen ini akan dibangun secara serba lengkap, mencakup ruang pamer, perpustakaan, dan area edukasi interaktif. Rencana detail spesifikasi bangunan akan diumumkan setelah proses lelang selesai.
Peringatan seabad Sumpah Pemuda pada 2028 menjadi target akhir penyelesaian proyek. Ikrar yang diucapkan para pemuda pada 28 Oktober 1928 di Batavia itu berisi tiga poin utama: bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Monumen di Penyengat menjadi wujud nyata penghormatan terhadap ikrar ketiga tersebut.
“Semoga tidak gagal lagi,” demikian harapan yang disampaikan dalam bahan perencanaan proyek. Kini, semua mata tertuju pada keseriusan Pemprov Kepri dalam merealisasikan monumen kebanggaan nasional ini.