Pulau Penyengat Simpan 46 Situs Cagar Budaya, Gubernur Kepri Sebut Jadi Tonggak Lahirnya Bahasa Indonesia

Penulis: Irwansyah Hakim  •  Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:09:31 WIB
Gubernur Kepri Ansar menyampaikan Pulau Penyengat sebagai tonggak lahirnya Bahasa Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Ansar saat menjadi narasumber dalam program Jurnal Nusantara Kompas TV bertajuk "Pulau Penyengat Perkuat Identitas Budaya Melayu", Sabtu. Menurut dia, pulau kecil ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga yang wilayahnya membentang hingga Johor, Pahang, dan Singapura.

Dari Pulau Mas Kawin hingga Pusat Literasi Melayu

Nama Pulau Penyengat sendiri berasal dari kisah para nelayan dan pelaut yang diserang kawanan lebah saat singgah mengambil air bersih. Dalam memori kolektif masyarakat Melayu, pulau ini juga dikenal sebagai Pulau Mas Kawin—diberikan Sultan Mahmud Syah III kepada permaisurinya, Engku Puteri Raja Hamidah.

"Sejak saat itu Pulau Penyengat menjadi pusat penting Kesultanan Riau-Lingga dan hingga hari ini kita masih dapat menyaksikan berbagai peninggalan sejarah yang terus kita lestarikan bersama," kata Ansar.

Raja Ali Haji dan Warisan Manuskrip Abad ke-19

Pulau Penyengat dijuluki Pulau Penyair karena tradisi literasi yang tumbuh kuat sejak abad ke-19. Sebuah percetakan sudah berdiri di sini pada 1886, tempat para bangsawan, ulama, hingga perempuan aktif menulis dan menghasilkan ratusan manuskrip.

Tokoh terbesarnya, Raja Ali Haji, telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Karya monumentalnya meliputi Gurindam Dua Belas, Kitab Pengetahuan Bahasa—kamus bahasa Melayu modern pertama—serta Tuhfat al-Nafis.

"Dari pulau kecil inilah lahir banyak pemikiran besar yang menjadi fondasi kebudayaan Melayu dan perkembangan bahasa Indonesia," ujar Ansar.

Monumen Bahasa Nasional Sedang Dibangun di Atas Lahan 2 Hektare

Pemerintah Provinsi Kepri saat ini tengah membangun Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat di atas lahan seluas sekitar dua hektare. Ansar mengatakan monumen ini diharapkan menjadi media pembelajaran yang representatif mengenai sejarah perkembangan Bahasa Indonesia.

Ia menambahkan, bahasa Melayu yang berkembang di Kepri dipilih sebagai bahasa persatuan karena sifatnya yang terbuka, mudah dipelajari, dan telah digunakan sebagai bahasa komunikasi antardaerah sejak ratusan tahun lalu. Monumen ini sekaligus memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya bertaraf nasional.

Reporter: Irwansyah Hakim
Sumber: kepri.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top