BATAM — Badan Pengusahaan (BP) Batam membidik kawasan ini menjadi pusat ekosistem kendaraan listrik di Asia Tenggara. Target itu tidak hanya mencakup pembangunan pabrik, tetapi juga industri pendukung seperti baterai, komponen, pusat logistik, hingga infrastruktur pengisian daya.
Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis menegaskan bahwa potensi ekonomi terbesar lahir ketika seluruh sektor saling terhubung dalam satu sistem. "Yang ingin kita bangun bukan hanya industri kendaraan listrik, tetapi seluruh ekosistemnya. Mulai dari industri baterai, komponen, pusat logistik, data center, energi hijau, infrastruktur pengisian daya, hingga pusat riset dan inovasi," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Batam, Sabtu.
Investasi VinFast, anak usaha VinGroup, menjadi momentum awal pengembangan ekosistem ini. Perusahaan asal Vietnam itu menargetkan pembangunan sekitar 63.000 titik pengisian kendaraan listrik di Indonesia dengan nilai investasi mencapai 300 juta dolar AS. Batam masuk dalam rencana pengembangan tersebut.
Fary menilai keberhasilan VinGroup menjadi salah satu perusahaan terbesar di Asia Tenggara menunjukkan bahwa daya saing kawasan tidak lagi ditentukan oleh luas area industri atau besarnya insentif. "VinGroup tidak sekadar membangun proyek. Mereka membangun ekosistem. Ketika kawasan, industri, pendidikan, kesehatan, teknologi, dan mobilitas saling terhubung, maka investasi akan terus menciptakan nilai baru," katanya.
Untuk mewujudkan target tersebut, BP Batam tidak hanya fokus menarik investor baru. Lembaga itu tengah membangun Global Investment Ecosystem yang mengintegrasikan kepastian lahan, ketersediaan energi dan air, pelabuhan modern, Bandara Hang Nadim, kawasan industri, pusat data, konektivitas digital, serta sumber daya manusia unggul.
Transformasi ini sejalan dengan upaya BP Batam memperkuat posisi kawasan sebagai destinasi investasi yang memberikan kepastian regulasi dan kemudahan berusaha. Posisi strategis Batam di jalur perdagangan internasional, didukung status free trade zone (FTZ) dan kedekatan dengan Singapura serta Malaysia, dinilai menjadi modal utama menarik perusahaan global.
Fary menegaskan bahwa kunjungan delegasi BP Batam ke Vietnam merupakan bagian dari strategi percepatan transformasi. Menurutnya, persaingan investasi global telah berubah, dan investor kini mencari ekosistem yang memberikan kepastian, kecepatan, keberlanjutan, serta peluang berkembang.
"Persaingan investasi global telah berubah. Investor tidak lagi hanya mencari lahan atau insentif, tetapi mencari ekosistem yang memberikan kepastian, kecepatan, keberlanjutan, dan peluang untuk terus berkembang. Itulah arah baru Batam," sebut Fary.
Melalui VinFast dan mitranya V-GREEN, VinGroup mulai mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia yang mencakup fasilitas produksi, jaringan distribusi, hingga infrastruktur pengisian daya. Rencana pengembangan di Batam menjadi bagian dari jaringan distribusi tersebut di kawasan barat Indonesia.