LINGGA — Ombak Laut Natuna Utara pecah di hamparan pasir putih yang membentang luas saat air surut. Pemandangan itu bisa ditemukan di Pantai Dungun, Kecamatan Lingga Timur, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, sebuah kawasan pesisir yang masih jauh dari hiruk-pikuk keramaian.
Garis pantainya tercatat lebih dari satu kilometer, dengan tekstur pasir yang halus. Saat air laut surut, bentangan pesisirnya semakin melebar hingga membentuk panorama yang nyaris tak berujung. Di sepanjang pantai, puluhan kelong ikan milik warga berjejer, menjadi penanda bahwa kawasan ini masih sangat lekat dengan denyut kehidupan masyarakat setempat.
Lokasinya yang tersembunyi memang tidak mudah dijangkau. Dari Kota Daik, ibu kota Kabupaten Lingga, pengunjung harus menempuh perjalanan darat lebih dari satu jam. Namun, perjalanan panjang itu justru menjadi bagian dari pengalaman menikmati suasana pantai yang masih perawan.
Lazuardi, Staf Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga bidang Sejarah, Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, mengatakan karakteristik pantai ini menjadi daya tarik utamanya. "Hamparannya ketika air surut sangat luas dan berpasir halus. Panjang pantai ini lebih dari satu kilometer," ujarnya kepada rombongan wartawan dari Batam dalam agenda Road to Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026, Selasa (10/8/2026).
Karakter laut di kawasan ini berubah mengikuti musim. Saat musim utara tiba, gelombang bisa menjadi lebih besar dan ganas. Namun ketika cuaca bersahabat, pantai ini menjadi ruang bermain air yang menyenangkan sekaligus area mencari hasil laut bagi warga sekitar.
"Di musim utara ombaknya sangat besar. Kita bisa menikmati mandi di pantai ini dan sekaligus mencari hasil-hasil karang di sini, seperti kepah, remis dan sebagainya," kata Lazuardi.
Aktivitas mencari kepah dan remis ini menunjukkan bahwa Pantai Dungun bukan sekadar objek wisata. Bagi masyarakat Kampung Dungun yang bermukim di tepian pantai, laut adalah sumber penghidupan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Di tengah keindahan yang ditawarkan, pengelolaan Pantai Dungun masih sangat minim. Hingga saat ini, pengunjung tidak dipungut biaya masuk atau retribusi apa pun. "Untuk pengelola pariwisata kita belum ada tarif, belum ada retribusi. Untuk sementara ini gratis, bebas masyarakat," jelas Lazuardi.
Fasilitas pendukung seperti toilet dan sarana dasar lainnya belum tersedia secara lengkap. Meski begitu, geliat awal pariwisata mulai terlihat dengan hadirnya beberapa homestay milik warga di kawasan daratan, meskipun jumlahnya masih terbatas.
Tantangan terbesar untuk mengembangkan Pantai Dungun adalah kondisi infrastruktur jalan. Di beberapa titik, aspal yang pernah dibangun telah rusak berat dan kembali menjadi jalan tanah. Ketika musim hujan, perjalanan menuju pantai menjadi sulit dilalui kendaraan.
Kendaraan umum Damri disebut sudah dapat menjangkau wilayah sekitar pantai. Namun, peningkatan kualitas jalan tetap menjadi syarat mutlak agar destinasi ini bisa berkembang dan menggerakkan ekonomi masyarakat setempat.
Nama Dungun sendiri diambil dari nama pohon yang tumbuh di kawasan pesisir, memiliki karakter mirip vegetasi bakau. Identitas itu menguatkan bahwa Pantai Dungun adalah kawasan yang tidak bisa dilepaskan dari lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Kini, Pantai Dungun berada di persimpangan antara tetap menjadi pantai alami yang sepi atau bertransformasi menjadi destinasi wisata terkelola. Potensi alamnya jelas terlihat, namun tantangan akses dan fasilitas masih menanti kepastian langkah pemerintah daerah.