KEPULAUAN RIAU — Pencapaian ini bukan sekadar angka di atas kertas. Kenaikan laba yang signifikan tersebut menunjukkan transformasi bisnis Pegadaian berjalan cepat, terutama setelah perusahaan resmi menjadi Bank Emas pertama di Indonesia. Sebelumnya, pada periode yang sama di 2025, laba bersih Pegadaian baru mencapai Rp3,58 triliun.
Sorotan utama Presiden dalam pidato tersebut tertuju pada penguatan ekosistem emas nasional yang dijalankan Pegadaian. Melalui izin usaha bullion yang diperoleh, perseroan tidak hanya menyalurkan kredit gadai, tetapi juga membangun bisnis emas terintegrasi dari hulu ke hilir. Saat ini, kelolaan bisnis berbasis emas Pegadaian telah mencapai sekitar 153 ton, melonjak jauh dibandingkan saat awal layanan bullion diluncurkan.
Kehadiran Bank Emas ini dinilai strategis karena mengoptimalkan potensi emas dalam negeri. Nilai tambah yang sebelumnya bisa mengalir ke luar negeri, kini berputar di dalam negeri dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Prabowo sendiri meresmikan layanan Bank Emas pada 26 Februari 2025 di Pegadaian Tower, Jakarta Pusat.
Direktur Utama Pegadaian, Damar Latri Setiawan, menyebut apresiasi dari kepala negara merupakan kehormatan sekaligus amanah untuk terus bekerja lebih baik. Ia menegaskan, pertumbuhan laba yang positif adalah buah dari kepercayaan masyarakat, kerja keras seluruh insan Pegadaian, dan penguatan ekosistem emas yang sedang dijalankan.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas perhatian yang diberikan Presiden kepada kinerja Pegadaian. Capaian ini tentunya bukan menjadi tujuan akhir, tetapi menjadi amanah bagi kami untuk terus bekerja lebih baik,” ujar Damar dalam keterangan resminya.
Menurut Damar, potensi emas Indonesia masih sangat besar dan belum sepenuhnya tergarap. Dengan kelolaan 153 ton yang sudah ada saat ini, pihaknya yakin angka tersebut masih bisa ditingkatkan seiring dengan perluasan akses layanan. “Sebagai Bank Emas pertama di Indonesia, kami ingin memastikan potensi besar emas nasional dapat memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas,” tambahnya.
Sejalan dengan arahan Presiden, Pegadaian kini fokus pada tiga pilar utama: memperkuat layanan bisnis berbasis emas, mengembangkan bisnis bullion, dan mempercepat transformasi digital. Langkah ini diambil untuk memperluas jangkauan layanan kepada masyarakat dan menjaga momentum pertumbuhan perusahaan.
Dengan kombinasi bisnis gadai konvensional dan ekosistem emas modern, Pegadaian berambisi memperbesar kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi nasional. Target jangka panjangnya jelas: mewujudkan cita-cita “MengEMASkan Indonesia” dengan menjadikan emas sebagai instrumen yang memberikan kesejahteraan nyata bagi pemiliknya dan negara.
Keberhasilan ini juga menegaskan posisi Pegadaian yang tidak lagi sekadar perusahaan gadai pelat merah, melainkan pemain kunci dalam industri bullion dan keuangan berbasis komoditas di Asia Tenggara.