KEPULAUAN RIAU — Tekanan terhadap rupiah datang dari menguatnya indeks dolar AS di pasar global. Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan, sentimen risk-off tengah mendominasi pergerakan pasar keuangan dunia, mendorong investor untuk berlindung di aset aman.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang rebound di tengah sentimen risk-off global akibat meningkatnya ketidakpastian terkait dampak Economic D-Day yang diserukan AS, yang berpotensi menjatuhkan sanksi terhadap negara pihak ketiga, bank asing, maupun perusahaan komersial yang memberikan dukungan ekonomi vital kepada Teheran," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri, namun laju depresiasinya masih lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang kawasan. Di Asia, mayoritas mata uang kompak tertekan, dengan yen Jepang menjadi yang terparah setelah jatuh 0,18 persen. Ringgit Malaysia dan dolar Singapura sama-sama melemah 0,09 persen, disusul yuan China yang turun 0,04 persen dan won Korea Selatan yang terdepresiasi tipis 0,01 persen.
Di sisi lain, hanya dolar Hong Kong yang berhasil menguat 0,04 persen, sementara peso Filipina tercatat bergerak stabil terhadap dolar AS.
Tekanan serupa juga terjadi di negara maju. Dolar Kanada menjadi yang paling terpukul dengan koreksi 0,57 persen, disusul franc Swiss yang melemah 0,15 persen dan dolar Australia yang terkoreksi 0,12 persen. Euro Eropa turun 0,11 persen, sementara poundsterling Inggris melemah 0,08 persen.
Inti dari tekanan global ini adalah rencana Amerika Serikat yang disebut sebagai "Economic D-Day". Kebijakan tersebut menyasar negara ketiga, bank asing, hingga perusahaan komersial yang dinilai mendukung ekonomi Iran. Ketidakpastian atas cakupan dan implementasi sanksi ini membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Kondisi ini membuat aliran modal asing berpotensi keluar dari pasar keuangan Indonesia, baik dari pasar saham maupun obligasi. Untuk pasar obligasi, pelemahan rupiah juga berpotensi mengurangi daya tarik imbal hasil bagi investor asing karena risiko selisih kurs semakin tinggi.
Investasi mengandung risiko. Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan kebijakan luar negeri AS yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek.