TANJUNGPINANG — LAM Kepri menilai tradisi Makan Berhidang relevan menjadi perekat sosial. Dalam tradisi ini, seluruh lapisan masyarakat duduk bersama dalam satu hidangan tanpa memandang jabatan maupun status sosial. Kepala Bidang Pelestarian dan Pengembangan Adat dan Tradisi LAM Kepulauan Riau, Datuk Wira Setia Perdana H. Syafaruddin, menyebut jajaran pimpinan LAM sudah lama menginginkan tradisi ini kembali dilaksanakan, terutama oleh lembaga pemerintahan.
"Jajaran pimpinan LAM Kepulauan Riau sudah lama berharap kegiatan Makan Berhidang dapat dilaksanakan oleh lembaga pemerintahan dan lembaga lainnya. Ini merupakan tradisi yang memiliki nilai budaya tinggi dan perlu kita hidupkan kembali," ujar Syafaruddin.
Makan Berhidang bukan sekadar aktivitas makan bersama. Tradisi yang dikenal di berbagai daerah di Kepulauan Riau ini menjadi ruang membangun kebersamaan, kerja sama, dan rasa kekeluargaan.
Nilai utamanya adalah menghilangkan sekat sosial. Pejabat dan masyarakat biasa mendapat perlakuan yang sama dalam satu meja hidangan. Ajaran ini penting dipelihara di tengah kehidupan sosial yang semakin majemuk.
LAM Kepri akan mulai menyosialisasikan tradisi ini kepada LAM kabupaten dan kota. Selanjutnya, LAM di tingkat bawah diharapkan meneruskan ke masyarakat agar Makan Berhidang benar-benar dipraktikkan, bukan hanya dikenal sebagai warisan budaya.
Syafaruddin mengusulkan tradisi ini dikemas dalam berbagai kegiatan resmi. Makan Berhidang bisa dirangkaikan dengan doa selamat saat pembukaan acara atau gawai sehingga menjadi bagian dari seremoni.
"Dengan demikian, Makan Berhidang tidak hanya menjadi kegiatan makan bersama. Acara diawali dengan doa selamat, kemudian dilanjutkan dengan Makan Berhidang," jelasnya.
LAM Kepri siap memberikan bimbingan teknis bagi lembaga atau masyarakat yang ingin menerapkannya. Soal biaya, Syafaruddin menegaskan pelaksanaan tradisi ini tidak harus mewah dan dapat disesuaikan dengan kemampuan penyelenggara.
"Masalah harga relatif. Saat ini taksiran berkisar Rp200.000 sampai Rp400.000, tergantung lauk-pauknya. Yang terpenting adalah nilai kebersamaan dan filosofi budayanya," katanya.
Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat diharapkan mengambil peran menghidupkan kembali tradisi ini. Sebagai WBTb Kepulauan Riau, Makan Berhidang tidak cukup hanya dicatat dan didokumentasikan.
Tradisi ini harus diwariskan kepada generasi muda agar nilai kesetaraan, gotong royong, dan kekeluargaan tetap hidup di tengah masyarakat Melayu Kepulauan Riau.