Hidupkan Tradisi Makan Berhidang, LAM Kepri: Ini Perekat Sosial Tanpa Sekat

Penulis: Faisal Hasbi  •  Kamis, 03 September 2026 | 18:02:01 WIB
Pejabat dan masyarakat mengikuti tradisi Makan Berhidang di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Makan Berhidang, LAM Kepri: Ini Perekat Sosial Tanpa Sekat LEAD: Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau mengajak seluruh elemen masyarakat menghidupkan kembali tradisi Makan Berhidang. Tradisi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Kepri ini sarat nilai kesetaraan. LAM menilai tradisi ini relevan menjadi perekat sosial di tengah masyarakat yang kian kompleks. ISI:

TANJUNGPINANG — LAM Kepri menilai tradisi Makan Berhidang relevan menjadi perekat sosial. Dalam tradisi ini, seluruh lapisan masyarakat duduk bersama dalam satu hidangan tanpa memandang jabatan maupun status sosial. Kepala Bidang Pelestarian dan Pengembangan Adat dan Tradisi LAM Kepulauan Riau, Datuk Wira Setia Perdana H. Syafaruddin, menyebut jajaran pimpinan LAM sudah lama menginginkan tradisi ini kembali dilaksanakan, terutama oleh lembaga pemerintahan.

"Jajaran pimpinan LAM Kepulauan Riau sudah lama berharap kegiatan Makan Berhidang dapat dilaksanakan oleh lembaga pemerintahan dan lembaga lainnya. Ini merupakan tradisi yang memiliki nilai budaya tinggi dan perlu kita hidupkan kembali," ujar Syafaruddin.

Filosofi Kesetaraan dalam Satu Hidangan

Makan Berhidang bukan sekadar aktivitas makan bersama. Tradisi yang dikenal di berbagai daerah di Kepulauan Riau ini menjadi ruang membangun kebersamaan, kerja sama, dan rasa kekeluargaan.

Nilai utamanya adalah menghilangkan sekat sosial. Pejabat dan masyarakat biasa mendapat perlakuan yang sama dalam satu meja hidangan. Ajaran ini penting dipelihara di tengah kehidupan sosial yang semakin majemuk.

Rencana Masuk ke Acara Resmi Pemerintah

LAM Kepri akan mulai menyosialisasikan tradisi ini kepada LAM kabupaten dan kota. Selanjutnya, LAM di tingkat bawah diharapkan meneruskan ke masyarakat agar Makan Berhidang benar-benar dipraktikkan, bukan hanya dikenal sebagai warisan budaya.

Syafaruddin mengusulkan tradisi ini dikemas dalam berbagai kegiatan resmi. Makan Berhidang bisa dirangkaikan dengan doa selamat saat pembukaan acara atau gawai sehingga menjadi bagian dari seremoni.

"Dengan demikian, Makan Berhidang tidak hanya menjadi kegiatan makan bersama. Acara diawali dengan doa selamat, kemudian dilanjutkan dengan Makan Berhidang," jelasnya.

Biaya Fleksibel, Kebersamaan yang Utama

LAM Kepri siap memberikan bimbingan teknis bagi lembaga atau masyarakat yang ingin menerapkannya. Soal biaya, Syafaruddin menegaskan pelaksanaan tradisi ini tidak harus mewah dan dapat disesuaikan dengan kemampuan penyelenggara.

"Masalah harga relatif. Saat ini taksiran berkisar Rp200.000 sampai Rp400.000, tergantung lauk-pauknya. Yang terpenting adalah nilai kebersamaan dan filosofi budayanya," katanya.

Menjaga Agar Tidak Punah di Generasi Muda

Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat diharapkan mengambil peran menghidupkan kembali tradisi ini. Sebagai WBTb Kepulauan Riau, Makan Berhidang tidak cukup hanya dicatat dan didokumentasikan.

Tradisi ini harus diwariskan kepada generasi muda agar nilai kesetaraan, gotong royong, dan kekeluargaan tetap hidup di tengah masyarakat Melayu Kepulauan Riau.

Reporter: Faisal Hasbi
Sumber: riaukepri.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top