Pencarian

Bantengan Nuswantara XVIII di Batu Digelar Swadaya, 150 Kontingen dan 18 Wisatawan Asing Hadir

Senin, 03 Agustus 2026 • 13:53:31 WIB
Bantengan Nuswantara XVIII di Batu Digelar Swadaya, 150 Kontingen dan 18 Wisatawan Asing Hadir
kontingen dari berbagai daerah menampilkan seni Bantengan Nuswantara XVIII di pusat Kota Batu, Minggu (2/8/2026).

KEPULAUAN RIAU — Gemuruh kendang dan denting gamelan menyambut ribuan pasang mata di pusat Kota Batu, Minggu (2/8/2026). Puncak Bantengan Nuswantara ke-18 berlangsung meriah, diikuti 150 kontingen dari Kota Batu, Malang Raya, Mojokerto, Blitar, hingga Kediri. Mereka menampilkan ekspresi seni khas lereng Gunung Arjuno, Kawi, dan kawasan Mataraman.

Yang membuat edisi tahun ini istimewa bukan sekadar jumlah peserta. Seluruh rangkaian acara dibiayai secara mandiri oleh komunitas bantengan, pendekar, seniman, dan pegiat budaya. Tidak ada dukungan anggaran dari pemerintah daerah.

Mengapa Penyelenggaraan Tahun Ini Berbeda?

Anjani Sekar Arum, panitia penyelenggara, menegaskan bahwa festival ini lahir murni dari inisiatif masyarakat. "Bantengan Nuswantara tahun ini memang kita murni pure dari masyarakat Bantengan sendiri," ujarnya di sela-sela acara, Minggu (2/8/2026).

Menurutnya, kemandirian ini menjadi simbol solidaritas komunitas dalam menjaga ruang ekspresi budaya. Semangat gotong royong terbukti mampu menghidupkan tradisi tanpa ketergantungan pada anggaran resmi.

Rangkaian Acara Lima Hari

Puncak acara di Kota Batu hanyalah akhir dari perjalanan panjang. Festival telah berlangsung selama lima hari dengan berbagai agenda:

  • Pemberian penghargaan kepada sesepuh Bantengan Nuswantara sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh pelestari tradisi
  • Kolaborasi pertunjukan seniman nasional dan internasional di kawasan Malang Raya
  • Pementasan di Pujon Ngroto pada hari ketiga
  • Puncak acara di pusat Kota Batu pada hari kelima

Daya Tarik Wisatawan Mancanegara

Fungsi bantengan telah bergeser dari ritual desa menjadi atraksi wisata budaya. Tahun ini, panitia mencatat 18 wisatawan dan seniman internasional dari Australia, Jepang, Malaysia, Maroko, dan Chili datang khusus menyaksikan pertunjukan.

"Animo peserta dari luar negeri lebih banyak sekarang. Para seniman yang datang tahun kemarin, tahun ini mereka membawa teman-teman mereka," beber Anjani.

Fenomena ini menunjukkan bahwa seni tradisi lokal mampu bersaing di panggung global jika dikemas konsisten dan mempertahankan nilai autentiknya. Bantengan sendiri memadukan tari, musik tradisional, pencak silat, hingga pertunjukan trance yang sarat nilai spiritual.

Dampak Ekonomi untuk UMKM Lokal

Di balik atraksi spektakuler, perputaran ekonomi berjalan nyata. Ribuan pengunjung yang memadati pusat Kota Batu menghidupkan pedagang kaki lima, pelaku usaha mikro, dan sektor jasa lainnya.

"Fokus utama kita menyokong perekonomian masyarakat Kota Batu, khususnya p," ujar Anjani, menegaskan bahwa dampak ekonomi menjadi tujuan utama penyelenggaraan.

Langkah ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga terus mendorong pelestarian kesenian tradisional sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya.

Bagi traveler yang ingin menyaksikan perhelatan serupa, informasi jadwal dan lokasi detail dapat dikonfirmasi melalui dinas pariwisata setempat atau akun resmi komunitas Bantengan Nuswantara. Festival ini menjadi bukti bahwa tradisi dan ekonomi rakyat bisa berjalan beriringan.

Follow kepriline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: indonesiaonline.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks