BATAM — Investasi raksasa sebesar Rp88 triliun untuk membangun pusat data kecerdasan buatan (AI) di Batam bukan sekadar angka. Pemerintah memastikan proyek ini harus berdampak langsung pada pengurangan pengangguran dan peningkatan kesejahteraan warga lokal, termasuk para transmigran dan penduduk di sekitar kawasan.
Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menyatakan bahwa keberhasilan investasi tidak diukur dari besarnya modal, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dirasakan rakyat. “Investasi harus memberikan dampak nyata bagi rakyat. Yang paling penting bukan hanya nilai investasinya, tetapi seberapa besar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat,” tegasnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Oleh karena itu, Kementrans berkomitmen menyiapkan tenaga kerja terampil melalui program pelatihan peningkatan kapasitas, keterampilan, disiplin kerja, dan integritas. Target utamanya adalah memastikan generasi muda Indonesia menjadi bagian dari transformasi ekonomi digital global.
Mentrans Iftitah menekankan bahwa masyarakat transmigrasi tidak hanya mencakup para transmigran, tetapi juga penduduk lokal yang tinggal di kawasan transmigrasi dan wilayah sekitarnya. Jika mereka terserap lapangan kerja dari investasi ini, efek penggandanya akan sangat besar, mulai dari pengurangan angka pengangguran hingga pengentasan kemiskinan. “Kita harus memastikan masyarakat Indonesia, khususnya generasi mudanya, mampu menjadi bagian dari transformasi ekonomi digital dunia,” ujarnya.
Proyek ini merupakan ekspansi internasional pertama dari Range Intelligent Computing Technology Company Limited (RangeIDC), salah satu perusahaan pusat data terbesar di Tiongkok yang tercatat di Bursa Efek Shenzhen. Perusahaan pengembangnya, PT Equator Gate System Batam (EGSB), akan membangun High-Density AI Data Centre di kawasan Teluk Mata Ikan, Nongsa, Batam, di atas lahan seluas sekitar 30 hektare.
Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra menyebut Batam memiliki keunggulan geografis, konektivitas internasional, dan kesiapan kawasan yang kompetitif untuk industri digital masa depan. “Kehadiran investasi Artificial Intelligence (AI) Data Centre ini menjadi momentum percepatan transformasi Batam menuju ekonomi berbasis teknologi, inovasi, dan digitalisasi,” katanya.
BP Batam memastikan proyek strategis ini akan dikawal melalui pola fast-track execution untuk mempercepat realisasi investasi. Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis menegaskan bahwa kesiapan energi menjadi faktor fundamental, mengingat industri AI dan pusat data modern membutuhkan suplai listrik besar, stabil, dan berkelanjutan.
Langkah konkret telah diambil dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) antara PT PLN Batam dan PT EGSB. Kolaborasi ini menjadi bukti kesiapan kawasan dalam mendukung operasional hyperscale AI Data Centre berstandar global.
Dengan total investasi mencapai 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp88 triliun, proyek ini diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi baru di Batam. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan program pelatihan dan peningkatan kapasitas berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur digital, agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton di negeri sendiri.