Polsek Jemaja Tanam Jagung di Lahan 5.000 Meter Persegi, Kapolsek Sutomo Buka Suara soal Kendala Air dan Pemasaran di Anambas

Penulis: Faisal Hasbi  •  Minggu, 07 Juni 2026 | 14:09:01 WIB
Kapolsek Jemaja Iptu Sutomo memimpin penanaman jagung perdana di lahan petani seluas setengah hektare.
geografis dan akses pasar. ISI:

ANAMBAS — Kapolsek Jemaja, Iptu Sutomo, memimpin langsung penanaman jagung perdana di lahan milik petani Janak. Sepanjang 2026, Polsek Jemaja menargetkan sekitar tiga hektare lahan jagung di wilayah hukumnya. Tahap awal baru terealisasi setengah hektare.

“Ke depan kami akan menggandeng kelompok tani dan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas melalui Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) agar program ini berjalan optimal,” kata Sutomo, Sabtu.

Bantuan Bibit Baru Satu Karung, Lahan Perbukitan Jadi Kendala

DP3 Kepulauan Anambas telah menyalurkan bantuan bibit jagung sebanyak satu karung dengan berat lima kilogram. Bantuan itu didistribusikan melalui Polres kepada seluruh Polsek sebagai dukungan program swasembada jagung.

Sutomo mengakui kondisi geografis yang didominasi perbukitan menjadi tantangan serius. “Beberapa lokasi masih terkendala ketersediaan air. Seperti di Batu Berapit, kebutuhan air untuk penyiraman tanaman menjadi persoalan yang harus dipertimbangkan sebelum penanaman dilakukan,” ujarnya.

Pihaknya akan melakukan evaluasi bersama pemerintah desa untuk memastikan kelayakan lahan. Hasil evaluasi akan dilaporkan secara berjenjang kepada Kapolres, Polda, hingga Mabes Polri.

Polri Fokus pada Pendampingan, Bukan Anggaran

Sutomo menegaskan peran Polri dalam program ini lebih pada pendampingan kepada masyarakat dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang menjalankan usaha pertanian. “Jika desa memiliki program ketahanan pangan melalui BUMDes ataupun kelompok tani, kami siap mendampingi. Tidak ada anggaran khusus dari Polri untuk program ini,” jelasnya.

Polri membantu penyediaan bibit dan pupuk apabila tersedia, serta mendampingi mulai dari pengolahan lahan, penanaman, penyiraman, pemupukan, pengendalian hama, hingga masa panen. Saat panen tiba, pendampingan juga dilakukan pada proses penjemuran dan koordinasi dengan Bulog.

Harga Jagung Pipilan Rp 6.400 per Kg, Petani Khawatir Pasar Tak Terserap

Persoalan pemasaran menjadi sorotan utama. Sutomo mengungkapkan harga jagung pipilan yang dibeli Bulog dengan kadar air 14 persen berkisar Rp 6.400 per kilogram. Sementara harga jual kepada peternak atau pasar lokal bisa mencapai Rp 10.000 per kilogram.

“Persoalan ini sudah kami laporkan kepada pimpinan. Saat ini sedang dikoordinasikan hingga tingkat Mabes Polri agar kelompok tani yang kami dampingi memiliki peluang menjual hasil panen langsung ke pasar atau peternak sehingga memperoleh harga yang lebih menguntungkan,” katanya.

Menurut Sutomo, potensi pengembangan jagung pipilan di Kepulauan Anambas sebenarnya cukup menjanjikan, khususnya di wilayah Jemaja yang memiliki tingkat kesuburan tanah relatif baik. Namun, budidaya jagung pipilan di Kepulauan Riau masih sangat terbatas. Petani lebih banyak menanam jagung manis karena nilai ekonominya lebih tinggi, dengan harga jual berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram.

Petani Ingin Produksi Naik, Tapi Takut Panen Tak Laku

Di akhir kegiatan, Sutomo mengajak seluruh pemangku kepentingan memberi perhatian lebih pada aspek pemasaran. “Rata-rata petani ingin menanam lebih banyak. Tetapi kendalanya adalah pemasaran. Jika produksi meningkat sementara pasar terbatas, petani khawatir hasil panennya tidak terserap. Belum lagi persoalan distribusi antarwilayah yang masih terkendala transportasi,” pungkasnya.

Reporter: Faisal Hasbi
Sumber: sijoritoday.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top