KEPULAUAN RIAU — Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) merilis data terbaru yang menunjukkan koreksi tajam pada distribusi BYD. Setelah mencatat rekor 4.625 unit pada April 2026, pengiriman dari pabrik ke dealer ambrol menjadi 895 unit pada Mei 2026. Secara tahunan, angka ini juga turun 68 persen dibandingkan Mei 2025.
Kejanggalan utama terletak pada selisih antara distribusi dan penjualan ritel. Dealer BYD berhasil menjual 2.892 unit ke konsumen pada Mei 2026, lebih dari tiga kali lipat dari jumlah unit yang mereka terima dari pabrik. Dalam praktik industri otomotif, skenario ini hanya mungkin terjadi jika dealer memiliki stok besar dari bulan-bulan sebelumnya.
Penjualan ritel BYD tercatat masih tumbuh 9,6 persen dibandingkan Mei 2025 yang hanya 2.639 unit. Artinya, minat konsumen terhadap merek asal China itu belum surut secara fundamental. Yang terjadi adalah perlambatan ritme distribusi, bukan kehilangan pangsa pasar.
Pola pergerakan penjualan BYD sejak Maret 2026 menunjukkan siklus yang tidak biasa. Distribusi bulanan bergerak dari 2.941 unit (Maret) melonjak ke 4.625 unit (April), lalu anjlok ke 895 unit (Mei). Sementara penjualan ritel bergerak dari 4.153 unit (Maret) ke 6.274 unit (April), lalu turun ke 2.892 unit (Mei).
Lonjakan diikuti penurunan curam seperti ini kerap menjadi ciri strategi "push" di akhir kuartal. Pabrik mendorong unit besar-besaran ke dealer untuk memenuhi target, disusul periode tenang di awal kuartal berikutnya. Namun, jika tren ini berlanjut hingga Juni dan Juli 2026, analis akan mulai membicarakan perlambatan struktural yang lebih serius.
Meski distribusi domestik merosot, BYD masih memegang 57 persen pangsa pasar kendaraan listrik Indonesia dengan total penjualan 47.300 unit. Koreksi satu bulan belum cukup mengubah peta persaingan secara fundamental. Menariknya, data menunjukkan ekspor BYD justru meroket pada periode yang sama, menimbulkan pertanyaan tentang prioritas strategi global perusahaan.
Beberapa faktor bisa memicu penurunan distribusi drastis: penyesuaian stok dealer pasca-penjualan tinggi, perubahan jadwal logistik, atau persiapan peluncuran model baru. BYD diketahui tengah mendorong perpanjangan insentif EV 2026 ke pemerintah untuk menjaga momentum penjualan di dalam negeri.