KEPULAUAN RIAU — Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina (Phivolcs) pada 14 Juni mengonfirmasi bahwa pergeseran Palung Cotabato—sekitar 50 kilometer dari lepas pantai Mindanao—menjadi penyebab utama perubahan topografi pesisir tersebut. Tim survei yang dikerahkan ke lokasi melaporkan ditemukannya area dasar laut dan terumbu karang yang sepenuhnya terbuka ke permukaan.
Ekosistem Laut Kolaps, Ikan dan Biota Mati Berserakan
Departemen Lingkungan Hidup Filipina (DENR) menyatakan kenaikan dasar laut telah mempercepat degradasi ekosistem bawah laut. Banyak spesies yang bergantung pada terumbu karang—seperti ikan karang, belut, kerang, dan hewan bercangkang lainnya—menghadapi kepunahan massal akibat kehilangan habitat alami mereka.
Gambar yang dirilis kantor regional DENR menunjukkan hamparan terumbu karang yang luas terpapar langsung di bawah sinar matahari. Ratusan ikan dan biota laut mati ditemukan berserakan di permukaan dasar laut yang mengering.
Warga Mulai Sadar Dua Hari Pascagempa
Pejabat setempat mengatakan warga mulai menyadari fenomena anomali ini sekitar dua hari setelah gempa terjadi. Namun, hingga kini mereka belum dapat sepenuhnya menilai dampak yang timbul karena luasnya area yang harus disurvei.
Gempa magnitudo 7,8 yang melanda lepas pantai Mindanao pada 8 Juni telah menewaskan sedikitnya 61 orang. Badan penanggulangan bencana setempat mencatat setidaknya 40 orang masih dinyatakan hilang.
Palung Cotabato: Zona Seismik Paling Aktif di Filipina
Palung Cotabato merupakan salah satu daerah paling aktif secara seismik di Filipina. Hanya pada Januari lalu, kawasan itu mencatat ribuan gempa bumi, meskipun sebagian besar berkekuatan rendah. Filipina sendiri terletak di "Cincin Api Pasifik"—wilayah dengan konsentrasi zona patahan dan gunung berapi sangat aktif yang membentang dari Amerika Selatan hingga Timur Jauh Rusia. Akibatnya, gempa bumi terjadi hampir setiap hari di negara Asia Tenggara ini, kendati sebagian besar berintensitas rendah dan menyebabkan sedikit kerusakan.
Dasar Laut Terangkat, Apa Dampak Jangka Panjangnya?
Phivolcs menegaskan bahwa fenomena pengangkatan dasar laut ini bukan sekadar perubahan permukaan. Pergeseran Palung Cotabato telah mengubah topografi pesisir di provinsi Sarangani dan Davao secara permanen. Di beberapa titik, garis pantai tampak bergeser dan meluas sekitar 200 meter dibandingkan sebelumnya.
Para ahli mengingatkan bahwa kerusakan ekosistem terumbu karang yang terpapar sinar matahari langsung dapat memicu efek domino pada rantai makanan laut. Hilangnya habitat alami bagi spesies karang dan biota laut lainnya berpotensi mengganggu mata pencaharian nelayan lokal yang bergantung pada hasil tangkapan di kawasan tersebut.