KEPULAUAN RIAU — Program beasiswa konservasi orangutan yang digagas Orangutan Republik Foundation (OURF) bersama Yayasan Borneo Nature Indonesia (YBNI) tahun ini menghadirkan pengalaman baru. Sebanyak enam mahasiswa UPR resmi menerima pendanaan pendidikan setelah melalui seleksi ketat yang tidak hanya menilai indeks prestasi.
Rombongan turis dari Amerika Serikat dan Australia turut hadir dalam acara penyerahan beasiswa di Palangka Raya. Mereka ingin melihat secara langsung dampak dari kontribusi finansial yang diberikan untuk konservasi orangutan.
"Tahun ini lebih spesial karena ada rombongan turis dari Amerika Serikat dan Australia yang hadir menyaksikan penyerahan beasiswa. Mereka lihat sendiri, apa yang mereka berikan sudah diterima," ujar Chairman OURF Gary Saphiro.
Proses penerimaan mahasiswa baru program OCS tahun ini terbilang kompetitif. Dari total 13 pendaftar, panitia penyelenggara hanya memilih enam mahasiswa terbaik yang dinilai memiliki visi kuat di bidang konservasi.
Head of Operational YBNI Tjatur Basuki mengungkapkan, penilaian tidak hanya berdasarkan nilai akademik. Tim seleksi juga mempertimbangkan keaktifan organisasi, latar belakang keluarga, serta hasil wawancara motivasi dan pandangan masa depan para kandidat.
"Mereka dipilih berdasarkan keaktifan di organisasi, latar belakang keluarga, sampai hasil wawancara motivasi dan pandangan di masa depan tentang studi ini, mau ngapain," jelas Tjatur.
Pihak universitas menyambut baik kerja sama dengan lembaga internasional seperti OURF. Wakil Rektor UPR Bidang Akademik, Natalina Asi, menilai program ini memberikan dampak ganda bagi mahasiswa, yakni jaminan finansial sekaligus perluasan cakrawala berpikir global.
"Kemitraan dengan OURF sangat penting bagi kami karena ini kesempatan untuk mahasiswa mendapatkan pengalaman dan peluang belajar dari orang luar," tutur Natalina.
Sejak pertama kali digulirkan pada 2018, program OCS telah melahirkan 36 alumni yang kini bergerak di berbagai sektor pelestarian lingkungan. Kehadiran enam mahasiswa baru diharapkan mampu memperpanjang napas perjuangan menjaga habitat orangutan di Kalimantan.
Salah satu penerima beasiswa, Anastasya, mahasiswi Jurusan Kehutanan UPR, mengaku termotivasi untuk segera menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah. "Ilmu yang saya dapat selama proses kuliah nantinya akan saya diterapkan untuk lingkungan terutama masyarakat," ungkapnya.