KEPULAUAN RIAU — Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan rancangan Memorandum of Understanding on Industrial Cooperation kepada Pemerintah Armenia melalui jalur diplomatik. Hal ini diungkapkannya usai bertemu Menteri Ekonomi dan Perdagangan Armenia Gevorg Papoyan di sela-sela INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia.
Total perdagangan Indonesia-Armenia pada 2025 tercatat US$26,7 juta, dengan tren peningkatan rata-rata 70,64% per tahun selama lima tahun terakhir. Seluruh transaksi berasal dari sektor non-migas.
Agus merinci komoditas utama ekspor Indonesia ke Armenia meliputi kopi, teh, rempah-rempah, minyak sawit, kakao, sabun, karet, serat optik, hingga instrumen musik. "Saya meyakini semangat kemitraan yang telah terbangun selama lebih dari tiga dekade akan terus terjaga," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (9/7).
Dari sisi impor, Indonesia melihat potensi dari produk aluminium, mesin dan peralatan mekanik, peralatan listrik, tembakau, serta pakaian jadi asal Armenia. Struktur perdagangan yang saling melengkapi ini dinilai menjadi fondasi kuat untuk memperluas kerja sama investasi dan rantai pasok.
Agus menekankan bahwa Armenia bukan sekadar mitra bilateral. Negara tersebut merupakan anggota Eurasian Economic Union (EAEU), sehingga bisa menjadi gerbang strategis menuju kawasan Eurasia yang dinamis.
Momentum ini diperkuat oleh penandatanganan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) pada 21 Desember 2025 di St. Petersburg. "Perjanjian tersebut membuka akses pasar ke kawasan Eurasia dengan populasi hampir 180 juta jiwa, lebih dari 85% nilai perdagangan memperoleh preferensi tarif," jelas Agus.
Rancangan MoU yang diajukan Kemenperin mencakup enam area utama:
"Kementerian Perindustrian berharap rancangan MoU tersebut dapat segera memperoleh tanggapan positif dari pihak Armenia sehingga proses finalisasi dapat segera dimulai," pungkas Agus.
Hubungan diplomatik Indonesia-Armenia telah berlangsung hampir 34 tahun sejak 22 September 1992. Bagi investor dan pelaku bisnis, perkembangan ini membuka opsi diversifikasi pasar ekspor non-tradisional di kawasan Kaukasus dan Eurasia.