BATAM — Bundaran yang berlokasi di ruas jalan menuju Bandara Internasional Hang Nadim itu bukan sekadar tugu biasa. Desainnya sarat makna budaya Melayu yang telah melalui proses diskusi panjang dengan Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam.
Amsakar menjelaskan, tanjak sebagai penutup kepala tradisional Melayu melambangkan kehormatan, kewibawaan, dan jati diri masyarakat setempat. Sementara itu, tepak sirih dihadirkan sebagai simbol penyambutan tamu yang mencerminkan keramahan khas budaya Melayu.
“Kita ingin semangat historis tetap hidup, namun pada saat yang sama Batam harus terus melangkah menjadi kota yang maju tanpa meninggalkan jati diri negerinya. Inilah yang ingin kita hadirkan melalui Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan,” kata Amsakar dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/7/2026).
Nama bundaran yang semula direncanakan sebagai Bundaran Hang Nadim akhirnya disepakati berubah. Atas masukan LAM Kota Batam, nama resmi yang dipilih adalah Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda V.
Perubahan ini merupakan bentuk penghormatan kepada tokoh yang memiliki jejak sejarah penting di wilayah Kepulauan Riau. Amsakar menilai penamaan itu bukan sekadar simbolis, melainkan cerminan cara BP Batam merawat identitas kawasan di tengah derap pembangunan.
Pembangunan bundaran ini tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun anggaran BP Batam. Seluruh biaya proyek berasal dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Uma Graha Berkah.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada para pelaku usaha yang telah menyambut baik gagasan untuk bersama-sama menata wajah Kota Batam,” ujar Amsakar.
Pembangunan bundaran ini merupakan bagian dari program penataan ruang kota yang lebih luas. Amsakar menyebut, penataan wajah kota sejalan dengan arahan Presiden RI agar daerah tidak kumuh, semrawut, atau dipenuhi reklame dan kabel yang mengganggu estetika.
“Karena itu, kemarin ada gerakan Indonesia Asri dan di Batam kita laksanakan melalui gerakan Batam Asri,” ujarnya. Langkah ini disebut sebagai awal dari penataan taman dan bundaran di berbagai titik Kota Batam.
Prosesi peletakan batu pertama turut dihadiri Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, jajaran Anggota/Deputi BP Batam, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Batam, serta pengurus LAM Kota Batam.
BP Batam berharap penataan ini memperkuat posisi Batam sebagai bandar madani yang inovatif, berkelanjutan, dan berbudaya, sekaligus destinasi unggulan investasi, perdagangan, dan pariwisata.