Kasi Intel Kejari Natuna Aditya Syaummil Patria Jajal Laut Natuna Naik Pompong, Buktikan Langsung Kekayaan Ikan di Perbatasan

Penulis: Zulkifli Arief  •  Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:32:41 WIB
Kasi Intel Kejari Natuna Aditya Syaummil Patria menjajal langsung kekayaan ikan di perairan Natuna menggunakan pompong kayu.

NATUNA — Langit pagi yang cerah tidak menjamin perairan tenang. Itulah yang dirasakan rombongan Kasi Intel Kejari Natuna saat melintasi ombak menuju Pulau Senua. Kapal kayu tradisional yang mereka tumpangi bergoyang keras, sesekali hempasan air laut memercik ke dek, memaksa setiap orang berpegangan erat.

Memilih Pompong Kayu, Bukan Kapal Cepat

Alih-alih menggunakan perahu wisata atau kapal cepat, rombongan sengaja menyewa pompong—kapal kayu yang menjadi tulang punggung nelayan Natuna. Pilihan ini dibuat agar mereka bisa merasakan sensasi memancing yang sesungguhnya dan melihat dari dekat kehidupan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada laut.

Perjalanan menuju titik pemancingan tidak langsung membuahkan hasil. Di sekitar Pulau Senua, umpan cumi-cumi segar yang diturunkan beberapa kali tak kunjung mendapat sambaran. Joran tetap diam, kesabaran mulai diuji.

Pindah Spot, Hasil Tangkapan Langsung Membludak

Pemilik pompong yang juga bertindak sebagai pemandu—dengan pengalaman puluhan tahun—menyarankan rombongan berpindah lokasi ke titik yang lebih jauh dari garis pantai. Keputusan itu terbukti tepat. Begitu jangkar dijatuhkan, suasana berubah drastis. Umpan langsung disambar ikan karang. Joran melengkung, tali pancing menegang, dan pekikan kegembiraan pecah di atas kapal.

Satu per satu ikan berhasil diangkat ke permukaan. Ada yang berukuran sedang, ada pula yang cukup besar hingga memaksa pemancing mengerahkan seluruh tenaga. Ketegangan berganti tawa. Rasa lelah akibat dihantam ombak sejak sore seketika menguap.

Laut Natuna Bukan Sekadar Cerita

Bagi Aditya, pengalaman ini menjadi cara terbaik untuk mengenal Natuna lebih dekat. Selama ini, kekayaan laut Natuna kerap dibahas di forum-forum—mulai dari potensi perikanan hingga posisi strategisnya sebagai wilayah perbatasan negara. Namun, berada langsung di tengah laut dan menyaksikan sendiri melimpahnya sumber daya perikanan memberikan kesan yang berbeda.

Di atas pompong sederhana yang bergoyang diterpa ombak, ia melihat bagaimana laut menjadi nadi kehidupan masyarakat setempat. "Laut bukan sekadar bentangan biru yang memisahkan pulau-pulau, melainkan sumber penghidupan, harapan, sekaligus masa depan bagi banyak keluarga di wilayah terdepan Indonesia," ujarnya.

Penegak Hukum dan Insan Pers dalam Satu Pompong

Menjelang malam, ketika matahari mulai condong ke barat, rombongan memutuskan kembali ke daratan. Ember dan kotak penyimpanan ikan telah terisi hasil tangkapan yang memuaskan. Namun lebih dari sekadar membawa pulang ikan, perjalanan itu meninggalkan cerita tentang keberanian menantang ombak, menikmati kebersamaan, dan menyaksikan langsung kekayaan bahari Natuna.

Di tengah hamparan Laut Natuna Utara yang luas, batas antara profesi seolah menghilang. Penegak hukum dan insan pers duduk dalam satu pompong yang sama, berbagi tawa, pengalaman, dan rasa kagum terhadap anugerah alam yang dimiliki negeri di ujung utara Indonesia.

Reporter: Zulkifli Arief
Sumber: bursakota.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top