BATAM — Langkah transformasi Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar membawa dampak langsung ke kantong pelaku usaha di Kepulauan Riau. Biaya pengiriman logistik untuk rute Batam-Shanghai kini bisa ditekan hingga setengahnya, dari yang sebelumnya mencapai USD 1.100 per kontainer menjadi hanya USD 650.
Efisiensi ini bukan sekadar angka di atas kertas. Pengusaha yang selama ini harus merogoh kocek lebih dalam karena kapal harus transit di Singapura, kini bisa menikmati rute langsung (direct call) yang memangkas waktu tempuh menjadi hanya delapan hari. Potensi penghematan mencapai USD 300 per kontainer, atau setara 30 hingga 50 persen dari biaya sebelumnya.
Modernisasi yang digarap PT Batam Terminal Petikemas (BTP) bersama BP Batam ini tidak hanya soal biaya. Kinerja operasional pelabuhan juga menunjukkan lompatan signifikan. Container Handling Productivity naik dari 18 BCH menjadi 24 BCH, atau meningkat 33 persen.
Yang lebih mencengangkan, kecepatan penanganan kapal (Ship Handling Productivity) melonjak tiga kali lipat, dari 12 BSH menjadi 40 BSH. Dampaknya langsung terasa pada waktu tambat kapal yang kini hanya tujuh jam, turun drastis 65 persen dari sebelumnya yang mencapai 20 jam.
“Sejalan dengan arahan Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, dan Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, pengembangan TPK Batu Ampar akan terus diakselerasi sebagai komitmen untuk mewujudkan sistem logistik yang modern dan efisien,” ujar Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, dalam keterangan resmi, Jumat (10/7/2026).
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, TPK Batu Ampar mencatat arus peti kemas mencapai 221.183 TEUs. Dari jumlah tersebut, aktivitas ekspor menyumbang 71.930 TEUs atau sekitar 32,5 persen. Angka ini menjadi indikasi bahwa geliat manufaktur dan perdagangan di Batam terus menguat.
Frekuensi layanan kapal berkapasitas 1.200 hingga 2.000 TEUs juga meningkat signifikan, dari sebelumnya enam hingga tujuh kali menjadi 10 hingga 13 kali per bulan. Kapal-kapal besar itu kini bisa langsung merapat tanpa harus singgah di pelabuhan lain.
Dari sisi operator, efisiensi waktu sandar hingga 17 jam per kapal mampu menekan biaya operasional armada hingga USD 3.800 per kunjungan. Artinya, pelabuhan ini tidak hanya menguntungkan pengirim barang, tapi juga menarik bagi maskapai pelayaran.
Tak berhenti pada perbaikan fisik, pengelola TPK Batu Ampar juga bersiap menerapkan sistem pembayaran langsung atau Direct Billing. Sistem real-time ini memungkinkan pengguna jasa membayar biaya layanan terminal langsung kepada pengelola tanpa perantara pihak ketiga.
Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, menyatakan bahwa langkah ini dirancang untuk memangkas birokrasi, meningkatkan transparansi, serta mempercepat proses administrasi. “Ke depan, BP Batam berkomitmen memperbesar kapasitas tampung terminal agar dapat merespons pertumbuhan arus barang global,” ujarnya.
Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, menambahkan bahwa seluruh indikator positif ini menunjukkan peta jalan pengembangan TPK Batu Ampar telah berada pada jalur yang benar. Modernisasi ini menjadi bukti bahwa Batam serius bertransformasi menjadi hub logistik regional yang kompetitif di Asia Tenggara.