KEPULAUAN RIAU — Kekhawatiran wajar menyelimuti pendukung Crystal Palace menjelang kick-off musim baru. Tim asuhan Pierre Sage itu akan bertandang ke Hill Dickinson Stadium untuk memulai kampanye, namun persiapan mereka jauh dari kata ideal. Situasi ini menjadi ujian besar bagi manajemen klub asal London Selatan tersebut.
Kepergian Oliver Glasner ke Nottingham Forest meninggalkan lubang besar di kursi pelatih. Meski hubungannya dengan sebagian suporter sempat renggang, kapasitasnya sebagai pelatih papan atas tak terbantahkan. Menggantikan pelatih berkaliber seperti Glasner bukan perkara mudah, terlepas dari cepatnya manajemen menunjuk Sage.
Pierre Sage datang dengan reputasi mentereng setelah membawa RC Lens bersaing memperebutkan gelar Ligue 1 musim lalu. Namun, torehan itu terjadi di kompetisi berbeda. Pertanyaannya kini, akankah racikan taktiknya mampu bersaing di Premier League yang jauh lebih ketat?
Di lini belakang, situasi lebih memprihatinkan. Hengkangnya Maxence Lacroix ke Chelsea menjadi pukulan telak. Duet rekrutan gratis, Takehiro Tomiyasu dan Oscar Mingueza, dianggap sebagai solusi yang berisiko tinggi.
Kebijakan bursa transfer Palace musim panas ini menuai sorotan tajam. Keputusan menukar Dwight McNeil dengan Brennan Johnson dianggap sebagai langkah sideways yang tidak jelas. Keduanya adalah pemain sayap yang konsisten tampil inkonsisten, dan tidak satupun dari mereka terlihat seperti sosok transformatif yang bisa membawa lini serang Palace ke level berikutnya.
Perekrutan Zavier Gozo, pemain muda berusia 18 tahun dari Major League Soccer, memang masuk akal sebagai investasi jangka panjang. Namun, memaksanya memikul beban serangan utama di Premier League adalah harapan yang tidak realistis untuk pemain yang baru datang dari Amerika Utara.
Keputusan melepas Romain Esse ke Club Brugge juga dianggap picik. Esse memang gagal menembus tim utama, tetapi itu lebih disebabkan oleh hubungannya yang buruk dengan Glasner. Alih-alih memberinya kesempatan kedua dengan pelatih baru, klub justru melepas talenta mudanya.
Berdiri diam di Premier League berarti berjalan mundur, terutama ketika klub-klub di bawah mereka musim lalu bergerak agresif di bursa transfer. Jika Palace gagal mendatangkan pemain bintang sebelum jendela transfer ditutup, musim ini berpotensi menjadi langkah mundur yang tajam.
Tomiyasu adalah pemain cerdas, tapi riwayat cederanya yang panjang membuatnya tidak bisa diandalkan sebagai starter setiap pekan. Sementara Mingueza lebih cocok sebagai pelengkap kedalaman skuad daripada pengganti langsung Lacroix. Kombinasi keduanya belum tentu mampu mereplikasi dampak yang ditinggalkan bek asal Prancis tersebut.
Dengan segala ketidakpastian ini, Crystal Palace memasuki musim baru dengan modal yang minim. Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah mereka bisa bersaing di papan atas, melainkan apakah mereka mampu bertahan dari ancaman zona degradasi.