Media Lokal di Kepri Didorong Perkuat Kolaborasi dan Cari Pendapatan Baru, Ketergantungan APBD Capai 90 Persen

Penulis: Faisal Hasbi  •  Sabtu, 15 Agustus 2026 | 20:34:31 WIB
Media lokal di Kepulauan Riau didorong memperkuat kolaborasi dan diversifikasi pendapatan untuk mengurangi ketergantungan pada APBD yang mencapai 90 persen.

TANJUNGPINANG — Industri media lokal di Indonesia, termasuk di Kepulauan Riau, tengah berada di persimpangan. Di satu sisi, biaya produksi berita terus merangkak naik. Di sisi lain, pendapatan iklan konvensional semakin tergerus dan ketergantungan terhadap anggaran pemerintah daerah masih sangat tinggi, mencapai 90 persen.

Kondisi ini diungkapkan Pemimpin Redaksi suara.com, Suwarjono, dalam diskusi tentang masa depan media di era disrupsi. Ia menegaskan bahwa model bisnis lama yang mengandalkan jurnalisme untuk membiayai operasional redaksi sudah tidak relevan lagi.

“Dulu jurnalisme menghidupi dan membiayai redaksi atau operasional. Sekarang mahal,” ujarnya, Senin lalu.

Efisiensi Anggaran Mengancam Keberlanjutan Media Daerah

Suwarjono memperingatkan bahwa ketergantungan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) membuat media lokal sangat rentan. Kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah pusat tahun ini berdampak langsung pada belanja publikasi di daerah.

“Jadi siap-siap saja mungkin beberapa daerah tak ada anggaran untuk media lagi. Tahun ini sudah kecil dan tahun depan kemungkinan tidak ada lagi,” tegasnya.

Ia menambahkan, perubahan perilaku pembaca yang beralih ke media sosial seperti Instagram dan TikTok, terutama dari kalangan Gen Z, semakin menekan trafik media melalui platform website. Algoritma yang terus berubah juga menjadi tantangan tersendiri bagi redaksi dalam mendistribusikan konten.

Kekuatan Lokal dan Diversifikasi Jadi Kunci Bertahan

Menghadapi situasi ini, Suwarjono menyarankan media lokal untuk tidak terjebak dalam persaingan kecepatan dan jumlah publikasi yang seragam. Justru, kedekatan dengan isu, tokoh, dan budaya setempat harus menjadi modal utama.

“Media lokal harus menjadi official storyteller of the region,” paparnya.

Selain itu, diversifikasi pendapatan menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa ditunda. Setiap media didorong untuk memiliki tiga hingga empat sumber pemasukan dari lini bisnis yang berbeda. Strategi ini dinilai mampu menjaga operasional ketika salah satu sumber pendapatan utama mengalami penurunan.

“Tantangan ke depan itu akan sangat berat. Makanya semua organisasi media yang sedang menghadapi isu sama yang berat ini kita ajak kolaborasi,” kata Suwarjono.

Teknologi AI dan Konten Spesifik Jadi Strategi Baru

Pengelola media lokal mulai melirik teknologi untuk meningkatkan efisiensi kerja redaksi. Pengelola Info Sulawesi, Toto Sudarmongi, mengaku memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengolah informasi.

“Melalui Local Media Summit, saya semakin memahami bagaimana memodifikasi dan mengembangkan berita dengan bantuan teknologi, terutama NotebookLM,” ungkap Toto.

Senada dengan itu, pengelola Info Kota Makassar, Ibnu Munsir, menilai penentuan sasaran audiens yang spesifik menjadi kunci. Dengan memahami siapa pembacanya, media dapat menghasilkan konten yang lebih tepat sasaran dan membangun komunitas yang kuat.

“Dari diskusi ini saya belajar bahwa penting menentukan sasaran audiens. Kalau kita tahu siapa pembacanya, kita bisa membuat konten lebih tepat,” katanya.

Reporter: Faisal Hasbi
Sumber: hariankepri.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top