KEPULAUAN RIAU — Lelang aset maskapai murah asal Amerika Serikat, Spirit Airlines, yang dinyatakan bangkrut tahun ini menarik minat pembeli tak terduga. Google, melalui penawaran senilai USD 10 juta (sekitar Rp 160 miliar), resmi memenangkan paket data operasional dan bisnis maskapai tersebut untuk kepentingan pengembangan produk AI.
Data yang diperoleh Google bukan sekadar catatan penerbangan biasa. Berdasarkan laporan Bloomberg Law dan dokumen pengadilan, paket ini mencakup lebih dari 100 juta email, ratusan juta obrolan Microsoft Teams, serta 30 juta baris kode perangkat lunak milik Spirit Airlines.
Selain itu, Google juga mendapatkan data historis yang sangat besar, termasuk catatan transaksi 7,5 miliar penumpang selama hampir dua dekade operasional. Data pendukung lain seperti informasi harga dari 7 miliar penerbangan kompetitor, strategi pemasaran, hingga data audit dan fraud juga termasuk dalam pembelian ini.
Google menegaskan bahwa data yang dibeli tidak akan mencakup informasi pribadi penumpang. Dalam pernyataan resminya, perusahaan menyebut seluruh data akan "dibersihkan secara ketat dari informasi identitas pribadi oleh pihak ketiga sebelum diterima".
Artinya, profil penumpang dan data program loyalitas Spirit Airlines tidak akan disertakan dalam proses pelatihan AI. Langkah ini diambil untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi privasi data yang berlaku, sekaligus menjaga kepercayaan pengguna layanan Google.
Keputusan Google membeli data dari industri penerbangan mencerminkan perburuan data baru di tengah kompetisi AI global. Data operasional perusahaan seperti jadwal, manajemen proyek, hingga produktivitas karyawan dinilai berharga untuk melatih model AI dalam memahami pola bisnis kompleks dan pengambilan keputusan.
Meski maskapai tersebut sudah tidak beroperasi, data historisnya tetap relevan sebagai bahan pembelajaran mesin. Google menyebut data ini "dapat membantu meningkatkan produk dan model AI kami" dalam pernyataan singkatnya.
Spirit Airlines, yang dikenal sebagai maskapai berbiaya rendah, menghentikan operasinya secara mendadak di tengah melonjaknya biaya bahan bakar. Kondisi finansial yang memburuk memaksa maskapai ini menjual seluruh asetnya melalui proses lelang kebangkrutan, dan Google menjadi salah satu pembeli terbesar untuk kategori data.
Fenomena ini menunjukkan tren baru di mana aset digital perusahaan yang bangkrut menjadi incaran perusahaan teknologi besar. Data operasional yang sebelumnya dianggap sebagai aset internal kini berubah menjadi komoditas berharga untuk pengembangan kecerdasan buatan generasi mendatang.