Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar di sekolah-sekolah Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, menemukan serumen telinga dan karies gigi sebagai masalah kesehatan paling dominan di kalangan pelajar. Petugas Puskesmas Ranai menyambangi SMAN 1 Bunguran Timur, Jumat (14/8), untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada siswa tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan.
NATUNA — Rini Dwi Lestari menarik otoskop dari meja pemeriksaan. Lampu LED kecil di ujung alat itu ia arahkan perlahan ke liang telinga Putri (16), siswi kelas XI yang baru saja menyelesaikan skrining kesehatan di ruang serbaguna SMAN 1 Bunguran Timur.
"Nah, ini ada sedikit serumen," ujar Rini kepada Putri yang tampak bingung.
Rini menjelaskan, serumen adalah kotoran telinga yang jika menumpuk bisa mengganggu pendengaran. Ia meminta Putri datang ke Puskesmas jika keluhan mulai terasa. Temuan ini, kata dia, bukan hal baru. Selama menjalankan CKG di sekolah-sekolah wilayah kerja Puskesmas Ranai, dua masalah kesehatan yang paling sering muncul adalah serumen telinga dan karies gigi.
Pemeriksaan di SMAN 1 Bunguran Timur berlangsung cepat. Putri hanya butuh kurang dari dua menit untuk mendaftar melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile menggunakan NIK pada Kartu Identitas Anak (KIA). Setelah itu, ia diarahkan ke meja skrining untuk tes ketajaman penglihatan menggunakan bagan Snellen.
Hasil pemeriksaan matanya normal. Namun, Rini menekankan bahwa fungsi penglihatan, pendengaran, dan kesehatan gigi berhubungan langsung dengan aktivitas belajar siswa. "Apalagi bagi pelajar, telinga, mata dan gigi itu penting, baik saat mengikuti pelajaran maupun mungkin bagi mereka yang bercita-cita menjadi abdi negara," katanya.
CKG yang digelar di Natuna merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) atau Quick Win yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto dan dilaksanakan Kementerian Kesehatan. Secara nasional, hingga 14 Juli 2026, program ini telah menjangkau 8,82 juta siswa di 96.567 sekolah yang tersebar di 511 kabupaten/kota.
Pemerintah menargetkan pemeriksaan mencakup 50,25 juta peserta didik di lebih dari 303 ribu satuan pendidikan sepanjang 2026. Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, karies atau gigi berlubang menjadi temuan terbanyak dengan 40,8 persen siswa. Disusul anemia pada 27,3 persen remaja putri dan hipertensi pada 21,7 persen siswa.
Pemeriksaan juga menemukan 6,9 persen siswa mengalami serumen impaksi dan 6,7 persen lainnya obesitas. Angka-angka ini menunjukkan persoalan kesehatan anak sekolah tidak selalu datang dalam bentuk keluhan yang terasa.
Rini mendorong siswa yang ditemukan memiliki masalah kesehatan untuk datang ke Puskesmas guna pemeriksaan lanjutan. Ia memastikan waktu bukan lagi kendala. Puskesmas Ranai membuka layanan sore hingga pukul 20.00 WIB setiap Senin sampai Jumat, sehingga pelajar bisa datang setelah pulang sekolah.
"Jadi nanti adik-adik pelajar bisa ke Puskesmas setelah mereka pulang sekolah. Syaratnya cukup bawa Kartu Identitas Anak saja," kata Rini.
Program CKG tidak hanya bertujuan menemukan penyakit, tetapi juga memperluas akses masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan dan mendorong penanganan sedini mungkin. Pemerintah tidak ingin pemeriksaan berhenti pada selembar hasil skrining.