BATAM — Penurunan jarak pandang mulai teramati sekitar pukul 06.00 WIB. Padahal, kondisi cuaca normalnya cerah berawan dengan jarak pandang hingga 10 kilometer.
“Biasanya kondisi cuaca normal, yaitu cerah berawan, jarak pandang berkisar 10 kilometer. Namun, hari ini teramati kondisi jarak pandang menurun hingga mencapai 6 kilometer,” kata Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Fitri Annisa.
Menurut Fitri, penurunan visibilitas ini diduga kuat dipicu oleh keberadaan hotspot di wilayah Kepulauan Riau, termasuk Batam. Kondisi ini masih memungkinkan aktivitas penerbangan berlangsung, meski tidak sejelas biasanya.
“Kalau 6 kilometer itu masih bisa. Biasanya 10 kilometer sangat jelas untuk take off, tetapi 6 kilometer masih bisa. Hanya memang tidak sejelas seperti biasanya,” ujarnya.
Ketebalan asap tidak seragam di semua kecamatan. Fitri menjelaskan, pergerakan angin dan kondisi atmosfer membuat sejumlah wilayah tampak lebih berkabut dibandingkan lokasi lainnya.
“Biasanya asapnya berkumpul terlebih dahulu, kemudian bercampur dengan udara pagi. Makanya di beberapa tempat terlihat lebih tebal, sementara di lokasi lain tidak terlalu tebal,” katanya.
Meski titik api kebakaran Trans Barelang tidak berada di dekat Bandara Hang Nadim, hembusan angin berpotensi membawa asap hingga ke kawasan bandara dan sekitarnya. BMKG terus memantau jarak pandang dan kondisi atmosfer, serta akan melaporkan perubahan signifikan kepada pemangku kepentingan.
Salah satu sumber asap berasal dari kebakaran lahan di kawasan perbukitan dan semak belukar Jalan Trans Barelang, Kelurahan Tembesi, Kecamatan Sagulung, Sabtu (22/8). Api menghanguskan lahan seluas sekitar 35 hektare.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan api berhasil dikendalikan pada Minggu (23/8). Pemadaman melibatkan BPBD Kepri, TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran, serta masyarakat dengan bantuan sejumlah mobil pemadam.
Proses pemadaman berlangsung sekitar empat jam setelah petugas mulai bertugas pada pukul 18.00 WIB. Kendala utama di lapangan adalah medan yang sulit dijangkau.
“Medan di lokasi cukup menyulitkan petugas karena berada di area perbukitan,” kata Kepala Bidang Humas Polda Kepri, Kombes Pol Nona Pricillia Ohei.
Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Polda Kepri masih menyelidiki sumber api dan belum menentukan apakah ada unsur pidana di balik kebakaran tersebut.
“Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Kami tidak ingin berspekulasi. Namun, apabila nantinya ditemukan unsur tindak pidana, tentu akan diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” ujar Nona.
Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap karhutla di Kepulauan Riau. Polda Kepri bersama TNI, pemerintah daerah, dan BPBD memperkuat patroli di kawasan rawan serta memantau titik panas secara berkala.
Polisi mengimbau masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan di area hutan dan lahan. Masyarakat diminta segera melaporkan jika menemukan titik api atau aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran meluas.