Pulihkan Air Bersih di Pulau Palue, Kementerian PU Jajaki Teknologi Desalinasi Air Laut dengan BRIN

Penulis: Redaksi  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:26:36 WIB
Pulihkan Air Bersih di Pulau Palue, Kementerian PU Jajaki Teknologi Desalinasi Air Laut dengan BRIN

Sikka – Langkah lanjutan untuk memulihkan akses air bersih pascagempa di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, NTT, kini memasuki babak baru. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tidak hanya bergerak memperbaiki infrastruktur yang rusak, tetapi juga membuka peluang kerja sama teknologi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengatasi krisis air bersih secara lebih permanen.

 

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjajaki berbagai teknologi yang berpotensi mengubah air laut menjadi air tawar. Langkah ini dinilai sebagai solusi yang jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan cara konvensional dalam menyediakan air bersih bagi warga Pulau Palue.

 

Hal tersebut disampaikan Menteri Dody dalam Rapat Koordinasi (Rakor) bersama Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Sikka dan seluruh balai Kementerian PU di NTT pada Jumat (23/8) malam.

 

“Saya sudah kontak Kepala BRIN, siapa tau mereka punya teknologi apapun untuk mengkonversi air laut itu menjadi tawar. Itu menurut saya akan jauh lebih efektif dan efisien,” ujar Dody Hanggodo.

 

Menteri PU menegaskan bahwa kondisi geografis Pulau Palue yang relatif kecil dan memiliki gunung berapi aktif menjadi tantangan tersendiri. Pencarian sumber air bersih di wilayah tersebut tidak mudah, sehingga diperlukan penanganan khusus yang berbeda dari daerah lain.

 

“Saya sudah perkirakan, ini kan pulau tidak terlalu besar, kemudian saya juga terinfokan ada gunung berapi yang lumayan masih aktif, jadi saya sudah bayangkan bahwa itu akan susah mencari sumber air bersih. Tapi kita akan terus upayakan. Nanti kita yang jungkir balik untuk mencari apapun supaya teman-teman kita di Palue itu tetap merasa bagian dari NKRI,” kata Menteri Dody.

 

Di sisi lain, kerusakan infrastruktur air bersih menjadi persoalan besar pascagempa di Kabupaten Sikka. Berdasarkan pendataan, dari total 495 prasarana air bersih yang terdampak, sebanyak 481 unit di antaranya mengalami kerusakan berat.

 

Kerusakan terparah terjadi di Kecamatan Palue, terutama pada Bak Penampung Air Hujan (BPAH) milik masyarakat. Sementara itu, infrastruktur air bersih milik Perumda di wilayah daratan yang mengalami kerusakan ringan dan sedang telah berhasil diperbaiki.

 

Data yang dihimpun Kementerian PU dan Pemkab Sikka mencatat dampak kerusakan terbesar akibat gempa bumi terjadi pada sektor pelayanan dasar. Selain air bersih, gempa juga merusak 371 prasarana sanitasi, dengan 302 unit di antaranya rusak berat, terutama fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) milik warga di Kecamatan Palue.

 

Percepatan pemulihan infrastruktur dasar ini, menurut Menteri Dody, merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar masyarakat terdampak bencana dapat segera bangkit dan menjalani kehidupan normal kembali.

 

“Kami melaksanakan ini karena arahan dan dukungan penuh dari Bapak Presiden Prabowo Subianto, kita hanya membantu mewujudkan apa-apa yang beliau inginkan, sehingga warga yang terdampak bencana itu bisa secepatnya tersenyum,” tuturnya.

 

Dengan kombinasi antara percepatan perbaikan infrastruktur sumber daya air dan sanitasi serta eksplorasi teknologi konversi air laut menjadi air tawar, Kementerian PU optimistis kebutuhan dasar masyarakat Pulau Palue dapat segera pulih.

 

Upaya ini menjadi bagian penting untuk memastikan warga terdampak gempa tidak hanya memperoleh penanganan darurat, tetapi juga solusi infrastruktur yang berkelanjutan dalam jangka panjang.

Reporter: Redaksi
Back to top