BATAM — Program SMK Go Global resmi berjalan di Kepulauan Riau (Kepri) dengan membuka satu kelas perdana yang diikuti 20 calon Pekerja Migran Indonesia (PMI). Pelatihan digelar di Politeknik Pariwisata Batam atau Batam Tourism Polytechnic (BTP) pada Rabu (26/8/2026), fokus pada bidang housekeeping.
Kepala Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Provinsi Kepri, Kombes Pol. Imam Riyadi, memastikan seluruh pembiayaan pelatihan ditanggung negara. Fasilitas yang diberikan meliputi asrama, tiga kali makan, hingga uang saku.
"Pelatihan ini dibiayai oleh negara secara penuh, mulai dari asrama, makan pagi, siang, sore dan malam, hingga uang saku. Setelah pelatihan, peserta juga mendapatkan sertifikasi secara gratis," ujar Imam.
BP3MI Kepri tidak berhenti di satu kelas. Pada tahap berikutnya, direncanakan penambahan dua kelas dengan total sekitar 40 peserta yang akan mengikuti pelatihan bidang housekeeping dan waiter.
Untuk angkatan perdana di Batam, seluruh peserta telah memiliki kepastian penempatan. "Untuk pelatihan di Kepri hari ini bidangnya housekeeping. Sebanyak 20 orang ini akan kita berangkatkan sesuai dengan job order yang sudah ada, yaitu ke Turki," katanya.
Program ini tidak eksklusif bagi lulusan SMK. Kepala BP3MI Kepri menyebut lulusan SMA, termasuk sekolah berbasis agama, tetap bisa mendaftar selama memenuhi persyaratan dan bersedia meningkatkan kompetensi.
"Target utamanya memang SMK karena mereka sudah memiliki keterampilan. Tetapi SMA juga boleh, termasuk lulusan sekolah agama," jelas Imam.
Antusiasme masyarakat Kepri cukup tinggi. BP3MI Kepri mencatat 2.544 orang telah mendaftar sebagai peminat, dan 276 orang di antaranya sudah masuk proses penjaringan lebih lanjut. Program ini akan berjalan berkelanjutan hingga 2029.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Andi Agung, menilai program ini sebagai langkah besar bagi lulusan vokasi. Posisi geografis Kepri yang berbatasan langsung dengan negara tetangga menjadi modal sekaligus tantangan.
"Ini merupakan langkah besar ke depan, terutama bagi anak-anak SMK kita. Kita harus memperbanyak peluang global, apalagi Provinsi Kepri berbatasan langsung dengan negara tetangga," kata Andi Agung.
Ia menekankan penguatan bahasa asing, terutama Inggris dan Mandarin, harus masuk dalam proses pembelajaran sehari-hari. Selain itu, sarana prasarana SMK juga perlu ditingkatkan, tidak hanya gedung tetapi juga peralatan praktik.
Andi Agung berharap kuota untuk Kepri ditambah pada tahap berikutnya. "Ke depan, sesuai dengan permintaan, kita harus meminta kuota lebih banyak lagi. Ini kesempatan bagi anak-anak kita," ujarnya.
Hingga 26 Agustus 2026, BP3MI Kepri mencatat total 3.095 PMI telah diberangkatkan secara legal dan prosedural ke berbagai negara. Lebih dari 2.000 di antaranya merupakan warga Kepri.
Singapura menjadi negara tujuan terbanyak, disusul Malaysia. Sebagian lainnya ditempatkan di sejumlah negara termasuk Rusia. Pelatihan SMK Go Global menggunakan konsep boarding di BTP Batam, memastikan peserta fokus sebelum berangkat ke luar negeri.