KEPULAUAN RIAU — Berbeda dari generasi sebelumnya yang menggunakan pola lipatan bentuk Z, Mate XT 2 membawa mekanisme yang sekilas mirip dengan Samsung Galaxy Z TriFold. Perbedaan utamanya terletak pada arah panel saat perangkat dibuka, di mana Mate XT 2 membuka ke sisi kanan.
Keuntungan dari desain ini adalah layar lipat utama menjadi lebih terlindungi ketika ponsel dilipat sepenuhnya. Ini menjawab salah satu kekhawatiran utama pengguna ponsel lipat mengenai ketahanan layar terhadap goresan dan benturan.
Pada bagian layar luar, Huawei menempatkan kamera depan dalam punch-hole berbentuk pil yang kemungkinan besar mendukung fitur pengenalan wajah 3D. Sementara itu, modul kamera belakang masih mempertahankan bentuk oktagonal khas yang digunakan pada generasi sebelumnya, memberikan identitas visual yang konsisten.
Huawei belum mengumumkan spesifikasi resmi, namun bocoran yang beredar menyebutkan Mate XT 2 akan mengandalkan chipset Kirin 9030S, prosesor yang juga digunakan di Pura 90 Pro dan Pro Max. Jika bocoran ini akurat, performa yang ditawarkan akan setara dengan lini flagship Huawei lainnya.
Yang lebih menarik, Mate XT 2 disebut-sebut menjadi smartphone pertama yang menjalankan HarmonyOS 7. Ini menandakan lompatan besar dalam ekosistem software Huawei, sekaligus menjadi pembeda utama dari kompetitor yang masih bergantung pada Android.
Selain peluncuran Mate XT 2 di China, Huawei juga memiliki agenda terpisah untuk pasar global. Pada 2 September 2026, perusahaan akan menggelar acara bertajuk "Chase The Wild" yang menjadi ajang peluncuran berbagai perangkat wearable terbaru, termasuk Huawei Watch D3, tablet MatePad Pro 12-inch, dan ponsel Nova 16s Series.
Strategi ini menunjukkan Huawei menjalankan pendekatan ganda: fokus pada inovasi radikal di pasar domestik China, sambil tetap memperkuat lini produk wearable dan tablet untuk konsumen global.
Langkah Huawei menghadirkan mekanisme lipat baru di Mate XT 2 menunjukkan bahwa persaingan di segmen tri-fold semakin ketat. Samsung dengan Galaxy Z TriFold dan kini Huawei dengan Mate XT 2 sama-sama berlomba menawarkan form factor yang lebih besar namun tetap portabel.
Bagi pengguna di Indonesia, kehadiran Mate XT 2 akan menjadi tontonan menarik meski ketersediaannya di pasar lokal masih belum jelas. Namun, inovasi seperti ini biasanya menjadi barometer arah perkembangan ponsel lipat yang akan datang ke pasar Asia Tenggara dalam beberapa tahun ke depan.