KEPULAUAN RIAU — Produsen mobil listrik asal Amerika Serikat, Rivian, kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawannya. Perusahaan mengonfirmasi kabar ini kepada TechCrunch, menyebutkan bahwa jumlah karyawan yang terdampak kurang dari 2 persen dari total tenaga kerja mereka.
Ini menjadi gelombang PHK setidaknya yang keempat kalinya sejak awal tahun 2024. The Wall Street Journal pertama kali melaporkan kabar tersebut pada Selasa waktu setempat.
Tim Purna Jual dan Pemasaran Jadi Sasaran
Rivian menyatakan restrukturisasi ini menyasar beberapa tim, terutama di divisi layanan dan tim pelanggan yang mencakup penjualan dan pemasaran. “Kami baru saja merestrukturisasi sejumlah kecil tim di dalam Rivian selagi kami berupaya mengembangkan bisnis secara menguntungkan,” demikian pernyataan resmi perusahaan.
Keputusan ini diambil di tengah momen kritis. Rivian baru saja memulai pengiriman SUV R2, model yang sangat dinantikan pasar, pada pekan lalu. Namun, momentum peluncuran produk baru itu tidak serta-merta mengubah arah kebijakan internal perusahaan.
Target Profit 2027 Mundur karena Investasi Mobil Otonom
Sejak berdiri, Rivian tercatat telah mengakumulasi kerugian sekitar 30 miliar dolar AS. Perusahaan sebelumnya menargetkan bisa mencetak laba pertama pada 2027. Namun, target tersebut diundur pada Maret lalu.
Penyebabnya, Rivian menggelontorkan dana besar untuk mengembangkan teknologi kendaraan otonom. Padahal, saat ini fitur otonomi yang ditawarkan Rivian masih terbatas pada sistem hands-off, eyes-on-the-road—pengemudi tetap harus mengawasi jalan meski tangan bisa dilepas dari setir. Kemampuan sebagai robotaxi yang dijanjikan belum terbukti.
Investasi Uber Belum Cukup Dongkrak Keyakinan Pasar
Kabar penundaan target profit ini diumumkan bersamaan dengan rencana investasi Uber. Perusahaan ride-hailing itu berkomitmen menanamkan modal hingga 1,25 miliar dolar AS di Rivian dan berencana membeli sebanyak 50.000 unit SUV R2 untuk dioperasikan sebagai robotaxi.
Meski begitu, langkah PHK beruntun ini menunjukkan bahwa Rivian masih berada dalam tekanan untuk menyeimbangkan antara ambisi teknologi dan realitas finansial. Bagi konsumen, kabar ini mungkin tidak langsung berdampak pada layanan purna jual di Indonesia—karena Rivian belum resmi masuk pasar lokal. Namun, ini menjadi sinyal bahwa bahkan pabrikan dengan produk sepopuler R2 pun belum aman dari gejolak efisiensi internal.